Beranda · About · Daftar Isi · Kisah Teladan · Kisah Muallaf · Kisah 25 Nabi · Aplikasi · Kisah Nabi Muhammad

Dendam Kaum Quraisy Kepada Nabi Muhammad saw

20. PANAS HATI DAN DENDAM KAUM QURAISY
KEPADA NABI MUHAMMAD SAW

Kisah Nabi Muhammad saw bagian 20
 
                Semenjak Nabi Muhammad saw. mengajak kaumnya bangsa Quraisy untuk menyembah Allah, sementara berhala-berhala dan patung-patung yang menjadi sesembahan para nenek moyangnya ditinggalkan, karena yang mereka sembah itu benda mati, yang tidak bisa memberikan manfaat dan madharat kepada penyembahnya; maka kecintaan kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad berubah menjadi kebencian dan kedengkian; serta hubungan kekeluargaan semakin jauh, bahkan kebenaran nabi serta amalan-amalan Nabi saw. menjadi bahan ejekan dan cemoohan.

                Memang pada dasarnya peribadatan yang selama ini dikerjakan oleh bangsa Quraisy itu tidak menggunakan rasio (akal sehat), mereka hanya berpedoman dan taqlid kepada nenek moyang terdahulu. Maka sebagai jawaban yang mereka suguhkan kepada ajakan Nabi Muhammad hanyalah: kami melakukan sesembahan yang semacam ini hanyalah mengikuti jejak nenek moyang kami.

                Perhatikan beberapa firman Allah di bawah ini, yang menggambarkan jawaban bangsa Quraisy yang tidak beriman kepada Rasulullah:
QS. Al-Baqarah ayat 170

                “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami, (apakah mereka akan mengikuti juga), walau pun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 170).

Firman-Nya:

QS. Al-Maidah Ayat 104
                “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk.” (QS. Al-Maidah: 104).

Firman-Nya:
QS. Luqman Ayat 21

                “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah.” Mereka menjawab: “Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang kamu dapati (dari) bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walau pun syetan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. Luqman: 21).

                Mereka bangsa Quraisy yang mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad, sama mendatangi pamannya Muhammad (Abi Thalib) untuk menghentikan keponakannya agar jangan sampai terus menerus berdakwah, mencela tuhan-tuhan yang disembah oleh nenek moyang mereka. Mereka mendatangi Abi Thalib, karena Abi Thalib masih mempunyai pengaruh dan kedudukan yang tertinggi dalam bangsa Quraisy.

                Kata Abu Thalib kepada Muhammad (keponakannya): “Wahai keponakanku, para pemuka-pemuka Quraisy telah mendatangiku, dan mereka menyuruh aku agar engkau berhenti dalam berdakwah dengan agama barumu (agama Islam) dan berhenti dalam mencela tuhan-tuhan mereka. Maka dengan spontan Muhammad menjawab:

                “Sungguh demi Allah, paman! Andaikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku menghentikan urusan ini, tidaklah akan aku lakukan hal itu, hingga Allah memenangkannya kalau aku terbunuh sebelum tercapainya (maksud yang dituju).“

                Dengan kebulatan tekad serta keyakinan yang menghunjam dalam hati, Abu Thalib malah memberikan semangat dan perlindungan dari serangan-serangan dan perlakuan yang tidak senonoh dan menyakitkan hati keponakannya dari serangan bangsa Quraisy yang anti dengan Muhammad.

                Demikian maju terus dakwah yang dilancarkan oleh Nabi Muhammad saw. sehingga membuat panas hati dan dendam kepada beliau; lebih-lebih sejak kaum Quraisy (yang anti ajaran Muhammad) mendatangi pamannya Abu Thalib yang tidak mau mencegahnnya dari dakwahnya itu, bahkan malah menjadi pembelanya (backingnya).

                Setiap kaum Quraisy menghadap Abu Thalib (paman Muhammad) dengan tujuan agar bisa menghentikan dakwah keponakannya, dan menghentikan jangan sampai mencaci tuhan nenek moyangnya; maka ucapan Abi Thalib tetap sama yaitu membela keponakannya sampai darah yang terakhir. Biar keponakannya menyiarkan agama Islam, menyampaikan perkara yang haq yang datangnya dari Allah. Kedatangan kaum Quraisy sampai ketiga kalinya menghadap Abu Thalib pulang dengan tangan hampa, walaupun ia disogok (disuap) dengan wanita yang cantik, harta yang banyak atau jabatan yang tinggi, ia tetap menolaknya, dan menjadi pembela Nabi Muhammad.

Sumber:
Ust. Maftuh Ahnan Asy, 2001. Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW. Yang Menerbitkan Terbit Terang: Surabaya.

Kisah Nabi Idris Lengkap

NABI IDRIS ALAIHISSALAM

Kisah 25 Nabi | Kisah Nabi Idris Lengkap dan Hikmahnya

                Nabi Idris Alaihissalam ini adalah keturunan ke-6 dari Nabi Adam Alaihissalam. Diyakini oleh banyak ulama dan ahli tafsir, Nabi Idris Alaihissalam adalah seorang yang mempunyai kemampuan dan kepandaian yang bermacam-macam. Semua keahlian Nabi Idris Alaihissalam didapat karena dia seorang yang gemar memperdalam dan mempelajari ilmu. Sebab itu pula kemudian yang menjadikan Nabi Idris Alaihissalam sebagai penemu alat tulis berbentuk pena.

                Dengan adanya alat tulis, memudahkan pula bagi Nabi Idris Alaihissalam memperdalam kegemarannya yaitu ilmu menggambar. Dengan kemampuannya ini, Nabi Idris Alaihissalam bisa membuat bentuk gambaran sebuah bangunan hingga menjadi sebuah tatanan kota. Dan tentu semua dibarengi dengan dakwah yang dijalankannya. Maka banyaklah kaum atau wilayah yang menjadi pemukiman di mana bagunannya adalah rancangan dari Nabi Idris Alaihissalam.

                Dalam bidang ilmu pertanian, Nabi Idris Alaihissalam juga memiliki andil. Dimana ilmu ini digabungkannya dengan ilmu perbintangan hingga mencapai kesimpulan mengenai waktu yang baik dalam pertanian. Misalnya kapan saat yang baik untuk bercocok tanam. Kapan saat yang baik untuk memanen. Bahkan, ilmu yang beliau pelajari dapat digunakan dalam menentukan perkiraan cuaca atau kondisi alam.

( Baca Juga : Kisah Nabi Adam Lengkap )

                Perhitungan dengan waktu atau musim mengikuti bintang atau bulan di kemudian hari menjadi cikal bakal sebuah ilmu yang disebut penghitungan kalender. Dimana dalam satu tahun menjadi 12 bulan. Dengan keahliannya ini, Nabi Idris Alaihissalam diberi sebutan sebagai Harmus al-Haramisah atau ahli perbintangan.

                Dengan banyak keahlian yang dimilikinya itu, sangat memudahkan tugas Nabi Idris dalam berdakwah. Sebutan lain yang juga melekat pada Nabi Idris yakni asad al-Asad, yang artinya singa dari segala singa. Sebuah gelar penyebutan yang menggambarkan bahwa Nabi Idris adalah seorang yang terkenal keberanian dan kegagahannya dalam pergaulan. Nabi Idris juga seorang ahli bahasa. Beliau mampu berkomunikasi dengan bergagai kaum yang bahasanya berbeda-beda.

                Tak hanya itu, pada ketika itu Nabi Idris Alaihissalam menjadi orang yang mula-mula pandai membuat pakaian yang dijahit. Model berpakaian pun saat itu kemudian benkembang setelah mengenal pakaian yang dijahit rapi dan bagus dan Nabi  Idris Alaihissalam. Belum lagi kemudian membuat pakaian yang dirangkai menjadi pakaian besi. Kebudayaan dan peradaban mulai tampak kemajuannya dengan beragai ilmu yang diajarkan dari Nabi Idris Alaihissalam.

                Nabi Idris Alaihissalam menunaikan dakwahnya sebagai bukti bersyukur atas karunia Allah akan keahlian dan kepandaian yang dimilikinya. Banyak lagi yang lainnya seperti ilmu berkuda, ilmu berhitung sederhana seperti panjang dan lebar, ilmu tentang abjad dan tata bahasa, serta hal-hal lainnya. Nabi Idris Alaihissalam mencapai semua itu juga karena Allah menjadikannya seorang yang gemar memperdalam dan mempelajari ilmu.

                Hingga sampai pada masa akhir Nabi Idris Alaihissalam menunaikan dakwahnya. Menurut keterangan Imam Bukhari dalam Sahih Bukhari dikatakan bahwa Allah telah mengangkat Nabi Idris Alaihissalam kelangit ke-4. Dikisahkan ketika Nabi Muhammad saw. melaksanakan Isra’ Miraj, beliau bertemu dengan Nabi Idris di langit ke-4 tersebut. Allah menunaikan janjinya mengangkat Nabi Idris Alaihissalam pada tempat atau derajat yang tinggi. Wa Allahu A’Iam.

Hikmah Kisah Nabi Idris :

  1. Gemar memperdalam dan mempelajari ilmu berguna dalam menambah ketakwaan kepada Allah.
  2. Menguasai banyak ilmu berguna mendatangkan banyak manfaat dalam urusan kemashlahatan.
  3. Mengamalkan segala ilmu yang dikuasai pada jalan yang diridhai Allah.
  4. Allah akan memberikan derajat yang tinggi bila selalu bersyukur akan kemampuan dan kepandaiannya yang dimiliki.

Kisah Nabi Idris Alaihissalam di dalam Mushaf al-Qur’an terdapat pada:
(Maryam: 56,57), (al-Anbiyaa’: 85,86).

Sumber :
Hendro Trilaksono, 2014. Kisah 25 Nabi dan Khulafaur Rasyidin. Yang Menerbitkan Mutiara Media: Yogyakarta

Kisah Nabi Adam Lengkap

NABI ADAM ALAIHISSALAM

Kisah 25 Nabi | Kisah Nabi Adam Lengkap

                Pengunjung yang baik, inilah awal dari semua kisah manusia. Adam diciptakan Allah sebagai manusia yang pertama. Sebelumnya Allah telah menciptakan alam semesta dan segala isinya. Allah juga telah menciptakan beberapa jenis makhluk yakni bangsa malaikat dan bangsa jin.

                Saat itu, bangsa malaikat dan bangsa jin tinggal di dalam surga. Setelah Adam selesai diciptakan dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam, Allah kemudian meniupkan roh padanya. Adam pun kemudian juga ditempatkan di surga.  Seluruh makhluk lantas diperintahkan Allah untuk bersujud kepada Adam.
                Malaikat yang memang makhluk paling taat segera melakukan perintah tersebut. Malaikat pun bersujud kepada Adam. Sedang Iblis yang berasal dari bangsa jin enggan untuk bersujud kepada Adam. Iblis menganggap bahwa dirinya lebih baik daripada Adam. Allah menciptakan Iblis dari api, sedangkan Adam diciptakan Allah dari tanah. Maka sepantasnya bukan dirinya yang harus bersujud, tapi Adamlah yang harus bersujud kepadanya. Pembangkang Iblis ini merupakan bentuk kesombongannya.

                Kesombongan Iblis di hadapan Allah benar-benar tidak terampuni dan terlewat batas. Siapa saja tidak patut menyombongkan dirinya di dalam surga apalagi menentang dan menantang perintah Allah. Allah murka dan mengutuk Iblis.

                Iblis terkutuk menerima dan memohon kepada Allah supaya ditangguhkan atau tidak akan mati sampai manusia dibangkitkan pada Hari Kiamat. Allah mengabulkan dan menjadikan Iblis golongan jin yang hidup abadi tapi termasuk golongan yang terhina dan terusir dari surga. Iblis berjanji bahwa ia akan berusaha menyesatkan manusia agar jauh dari Allah. Iblis juga berjanji akan menggoda manusia dari segala arah sampai tidak ada yang menaati Allah lagi. Allah berkata, bahwa Iblis dan siapa saja yang mengikutinya akan mengisi neraka Jahanam. Dan sebaliknya Allah akan menjadi Penjaga kepada siapa saja yang mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya dan mengikhlaskan diri dalam beribadah kepada-Nya.

                lblis terusir dan menjadi sangat mendendam. Adam sendiri lantas mendiami surga di mana dia tidak akan kelaparan, tidak akan telanjang, tidak akan dahaga, dan tidak akan ditimpa panas sengatan matahari. Setelah sekian lama tinggal di dalam surga, Adam merasa kesepian walau bersama dengan malaikat. Dengan kehendak Allah, Adam mendapat seorang pendamping atau istri di dalam surga. Malaikat bertanya-tanya kepada Adam, siapakah yang telah menjadi pendamping Adam tersebut. Adam pun dengan ilham dari Allah menjawab bahwa istrinya tersebut bernama Hawa.

                Mulai sejak itu, Adam dan Hawa mendiami surga dalam hidup penuh kebahagiaan. Allah melimpahi surga dengan segala hal yang menjadi kebutuhan Adam dan Hawa. Namun dari segala hal tersebut, terdapat sebuah pohon yang disebut pohon khuldi yang terlarang didekati oleh Adam dan Hawa. Allah memperingatkan bahwa Adam dan Hawa akan menjadi celaka dan termasuk orang yang zalim bila sampai mendekati dan memakan buah dari pohon tersebut.

                Adam dan Hawa hidup tentram dan nyaman di surga. Suatu waktu datanglah penggoda. Syaitan salah satu golongan Iblis yang terkutuk mendatangi Adam dan Hawa. la berusaha menggoda dan menjerumuskan Adam dan Hawa. Syaitan berkata dengan membanding-bandingkan Adam dan Hawa sebagai manusia dengan malaikat. Bahwa malaikat akan menjadi penghuni surga yang abadi, sedang Adam dan Hawa akan menjadi khalifah di muka Bumi. Bangsa malaikat hidup dengan kelimpahan nikmat tiada henti dengan hidup abadi di surga. Sedang Adam dan Hawa tidak akan dapat seperti malaikat.

                Syaitan mengatakan bahwa ia tahu caranya agar Adam dan Hawa bisa seperti malaikat. Syaitan mengatakan bahwa Adam dan Hawa harus mendekati pohon khuldi. Syaitan juga membujuk mereka untuk memakan buah dari pohon tersebut. Akhirnya Adam dan Hawa pun tergoda bujukan syaitan untuk memakan buah dari pohon khuldi.

                Setelah merasai dan memakan buah dari pohon tersebut, kemudian tampak dan terbukaIah aurat mereka berdua. Karena muncul rasa malu dengan susah payah masing-masing berusaha menutupi aurat yang tampak dan terbuka itu dengan dedaunan yang ada di sekitar mereka. Seketika sadarlah Adam dan Hawa akan kekeliruan dan dosa mereka. Larangan yang Allah peringatkan tetapi justru telah mereka langgar. Pohon yang sama sekali jangan mereka dekati kini malah telah menampakkan aurat mereka sendiri. Rasa penyesalan yang sedalam-dalamnya muncul, Adam dan Hawa kemudian bertobat dan memohon ampunan Allah. Allah memberikan ampunan-Nya serta menjatuhkan hukuman yakni memerintahkan Adam dan Hawa pergi dari surga dan turun ke muka Bumi.
                Berbekal pengetahuan dan beberapa kalimat-kalimat dari Allah, Adam dan Hawa turun ke muka Bumi. Saat diturunkan ke Bumi, Adam dan Hawa saat itu terpisah di dua tempat yang berbeda. Adam merasakan kehilangan dan mencari-cari keberadaan Hawa, sedang Hawa sendiri pun demikian pula. Di muka Bumi yang terhampar luas itu, dengan susah payah mereka terus-menerus saling mencari. Terhitung selama 40 hari barulah kemudian mereka berjumpa di sebuah bukit di jazirah Arab yang kemudian disebut dengan Jabal Rahmah. Macam-macam rasa muncul, bahagia, sedih, terharu, kasihan, dan rasa sayang. Adam dan Hawa akhirnya berkumpul dan menyatu kembali seperti sewaktu di dalam surga. Allah kemudian menjadikan Adam sebagai seorang nabi pertama di muka Bumi.
                Adam dan Hawa kemudian dikarunia banyak keturunan. Hampir kesemuanya anak-anak Adam dan Hawa terlahir sebagai anak-anak kembar, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Setelah beberapa pasang anak Nabi Adam Alaihissalam lahir, mereka kesemuanya hidup sesuai dengan ajaran dan petunjuk-petunjuk dari Allah.

                Mulailah pengajaran Nabi Adam Alaihissalam kepada anak-anaknya agar mengikuti perintah Allah. Selain itu ada hal penting juga yakni mengingatkan bahwa manusia memiliki musuh yang nyata dan abadi yakni syaitan yang terkutuk. Golongan Iblis yakni syaitan tidak pernah akan berhenti dan tidak akan pernah menyerah sampai hari kiamat untuk mengajak sebanyak-banyak keturunan Adam kepada kesesatan.

                Waktu di Bumi terus berlalu, Nabi Adam Alaihissalam bertambah terus umurnya. Segala perintah dan larangan Allah dijalankannya bersama Hawa dan anak-anaknya. Disebutkan bahwa anak kembar yang pertama dan anak kembar yang kedua dari Nabi Adam Alaihissalam dengan Hawa telah mencapai usia dewasa. Anak kembar yang pertama bernama Qabil dan lqlima, dan anak kembar kedua bernama Habil dan Labuda.

                Allah menurunkan perintah kepada Nabi Adam Alaihissalam agar menikahkan anak-anak pasangan pertama dengan pasangan kedua secara bersilangan. Qabil dengan Labuda, dan Habil dengan Iqlima. Nabi Adam kemudian memberitahukan perintah Allah tersebut kepada anak-anaknya. Saat itu datanglah syaitan yang terkutuk dengan kepentingannya membujuk dan menghasut.

                Salah seorang anak Nabi Adam yakni Qabil menilai keputusan untuk menikahkannya dengan Labuda adalah keputusan yang keliru. Qabil tidak mau menerima keputusan tersebut. Ia tidak mau menjalankan perintah Allah dan Nabi Adam Alaihissalam, ayahnya. Qabil berkata bahwa dirinya lebih pantas menikah dengan Labuda. Rupanya syaitan telah banyak memengaruhi pendirian Qabil. Qabil sendiri sepertinya telah lupa bahwa syaitan adalah musuh manusia yang sangat nyata dan sangat membenci ketaatan kepada Allah.

                Nabi Adam kemudian memohon kepada Allah agar diberi petunjuk mengenai permasalahan anaknya Qabil tersebut. Allah mendengar dan memberi Nabi Adam petunjuk. Nabi Adam diperintahkan untuk mengadakan persembahan qurban. Siapa yang qurbannya dipilih Allah maka dialah yang lebih pantas untuk menikah dengan Iqlima.

                Qabil dan Habil mulai bersiap untuk melakukan persembahan qurban. Nabi Adam kemudian menentukan hari persembahan. Ketika hari itu tiba, Qabil dan Habil diminta menaruh persembahan mereka di atas puncak bukit. Tak lama kemudian Allah pun telah memberi kan pilihan.

                Dipuncak bukit diketahui, bahwa persembahan qurban yang diterima oleh Allah adalah milik Habil. Qurban yang diterima tersebut adalah qurban seekor binatang peliharaan yang sangat sehat dan besar, tidak ada cacat sama sekali. Sedang milik Qabil yang ditolak adalah persembahan yang berasal dan hasil-hasil pertanian berupa sekarung gandum yang jelek dan buah-buahan yang telah membusuk. Tidak berbeda jauh dengan keputusan semula, Nabi Adam Alaihissalam lalu memutuskan dan menetapkan bahwa Qabil menikah dengan Labuda dan Habil menikah dengan lqlima.

                Qabil tetap belum bisa menerima keputusan tersebut. Muncullah rasa kecewa bertumpuk-tumpuk di dalam dirinya hingga menjadi rasa dendam. Sesungguhnya kehebatan syaitan sebagai musuh manusia yang taat dan beriman tidak boleh diremehkan. Qabil, putra Nabi Adam Alaihissalam akhirnya menjadi gelap mata. Hasutan syaitan telah memperdayanya dan membuatnya mengikuti jalan sesat.

                Suatu hari, Qabil mengajak Habil pergi ke suatu tempat dan kemudian Qabil pun menjatuhkan tangan jahat pada Habil. Saudaranya tersebut akhirnya meninggal karena dendam yang dipanas-panasi syaitan. Qabil tertegun, gemetar dan bingung, menjadilah dia orang yang celaka sepanjang dunia. Mayat Habil lalu dikuburkannya karena terilhami seekor burung gagak, setelah itu Qabil pergi jauh tak tahu ke mana. Sedang syaitan tertawa puas dengan kemenangan keduanya.

( Baca Juga : Kisah Nabi Idris Lengkap )

Hikmah Kisah Nabi Adam :

  1. Alam semesta dan segala isinya, malaikat, jin dan manusia dan makhluk-makhluk lainnya diciptakan oleh Allah Robbal ‘Alamin.
  2. Kesombongan dan keangkuhan Iblis adalah perbuatan yang sangat durhaka kepada Allah, dan jadilah Iblis penghuni neraka Jahanam selamanya.
  3. Semangat dan kegigihan Iblis seolah tidak pernah surut sampai Adam akhirnya melanggar perintah Allah.
  4. Keimanan dan ketaatan kepada Allah tidak boleh kalah dari semangat dan kegigihan Iblis.
  5. Segera menyadari kesalahan dan menyesalinya kemudian bertaubat dan memohon ampunan Allah juga mohon perlindungan-Nya agar terhindar dari godaan syaitan.
  6. syaitan benar-benar mempunyai kehebatan dan kecerdikan untuk menjerumuskan manusia dari sirothol mustaqim, sungguh syaitan musuh yang nyata bagi manusia.
  7. Tidak akan terpedaya oleh syaitan selama berada dalam sirothol mustaqim dan mengikuti petunjuk-petunjuk Allah dengan mengikhlaskan diri dalam beribadah kepada-Nya.
  8. Memberikan yang terbaik dari yang dimiliki sebagai bentuk persembahan qurban kepada Allah.
  9. Iri hati dan dengki bisa berubah menjadi kecewa dan dendam yang pasti akan terjebak perangkap syaitan yang sedang mencari pengikut untuk menjadi penghuni neraka Jahanam.

Kisah Nabi Adam Alaihissalam di dalam Mushaf al-Qur’an terdapat pada:
(al-Kahfi: 50), (al-A’araaf: 11-25), (al-Baqarah: 30-38), (al-lsraa’: 61-65), (Thaahaa: 115-125), (al-Hijr: 26-42), (Shaad: 71-85), (al-Maidah: 27-31).
 
Sumber :
Hendro Trilaksono, 2014. Kisah 25 Nabi dan Khulafaur Rasyidin. Yang Menerbitkan Mutiara Media: Yogyakarta

Kisah Teladan : Pohon Surga Yang Menjulur Ke Dunia

POHON SURGA YANG MENJULUR KE DUNIA


                ASYSYIBLI berkata: Suatu ketika saya berjalan menuju sebuah dusun, tiba-tiba melihat seorang pemuda yang kurus, rambutnya terurai, dan berpakaian kumal. Dia duduk di antara beberapa kuburan sambil meletakkan pipinya di tanah kuburan, dan kadang-kadang melihat ke langit sambil menggerakkan kedua bibir, dengan airmata yang mengalir. Dia tetap sibuk membaca tasbih, tahmid, tahlil dan istighfar.

                Ketika melihat keadaan itu, tertariklah hatiku untuk mendekatinya. Maka terpaksa saya membelok dari jalan yang lurus menuju ke arahnya. Ketika pemuda itu mengetahui bahwa aku akan mendekatinya, tiba-tiba dia bangun kemudian berlari menjauhiku. Aku pun berusaha untuk mengejarnya, tetapi tidak bisa, sehingga aku berkata:
                “Perlahan-lahanlah hai, Waliyullah!” .
                “Allah!” jawabnya.
                Maka saya berkata: “Demi Allah, sabarlah menantiku!”
                Maka ia memberi isyarat dengan tangannya: tidak. Dan ia mengulangi kalimatnya: “Allah!”
                “Jika benar apa yang kau katakan, maka tunjukkan kesungguhanmu pada Allah,” kataku kemudian.

                Tiba-tiba ia menjerit dengan suara yang keras: “Ya Allah!” Lalu ia jatuh pingsan. Dan ketika aku mendekatinya, ternyata ia telah meninggal dunia. Maka aku jadi bingung dan heran melihat kesungguhannya dalam mencihtai Allah.

                “Yakhtasshu birahmatihi man yasyaa’, wala haula wala quwwata illa billahil aliyyil azhiem,” kataku kemudian. Lalu saya pergi untuk mencari segala keperluan untuk perawatan mayatnya. Tetapi ketika aku kembali ke tempat itu, mayitnya sudah tidak ada. Tidak ada bekas dan tidak ada beritanya. Ketika saya dalam keadàan bingung dan bertanya-tanya siapakah yang mendahului aku menyelesaikan urusan pemuda itu, terdengarlah seruan.

                “Ya Syibli, sudah ada yang menyelesaikan urusannya, dan telah dirawat oleh malaikat. Hendaknya kamu banyak bersedekah dan ibadah pada Tuhan! Karena pemuda itu tidak dapat mencapai kedudukan itu kecuali dengan sedekahnya pada suatu hari.” .
                Lalu saya bertanya: “Demi Allah beritakan kepadaku bagaimana sedekahnya?”

                “Ya Syibli, pemuda itu pada mulanya fasiq, pelacur, durhaka dan gemar bermaksiat. Tiba-tiba pada suatu malam ia bermimpi kemaluannya menjadi ular, dan mengeluarkan asap api dari mulutnya sehingga membakar dirinya sampai menjadi arang yang hitam. Maka bangkitlah dia dari tidurnya dengan perasaan gelisah ketakutan, lalu dia keluar melarikan diri dari orang banyak untuk beribadah, dan hingga kini ia telah duabelas tahun bertaubat. Maka kemarin ada seorang pengemis meminta makanan untuk hari itu. Tiba-tiba ia melepaskan bajunya dan menyerahkan pada pengemis itu. Lalu pengemis tersebut mengulurkan kedua tangannya untuk mendoakan pemuda itu, agar dia mendapat ampunan. Kiranya Allah telah menerima doanya, berkat sedekah yang menggernbirakan orang miskin tersebut, sebagaimana tersebut dalam hadis:
Pergunakanlah kesempatan doa pengemis ketika ia gembira hatinya menerima sedekah itu!

                "Kedermawanan adalah pohon di dalam surga, sedang dahannya menjulur ke dunia, barangsiapa berpegang pada dahannya, dia akan dituntun oleh dahan itu menuju ke surga. Dan bakhil adalah pohon di dalam neraka, dan dahannya menjulur ke dunia, barangsiapa berpegang pada dahannya, dia akan teseret oleh dahan itu ke dalam neraka." (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Baihaqi)

                 Demikian Kisah Teladan yang bejudul Pohon Surga yang Menjulur Ke Dunia. Semoga setelah membaca kisah teladan tersebut kita bisa terinspirasi supaya menjadi orang yang dermawan dan bertaubat pada Allah swt.

Sumber :
Drs. H.M. Sya’roni, 2003. Membuka Aib Saudara, Kisah-Kisah Teladan dari Kitab Darratun Nashihin dan Irsyadul Ibad. Yang Menerbitkan Mitra Pustaka: Yogyakarta.

Nabi Mengumpulkan Anggota Keluarga Dalam Berdakwah

19. NABI MENGUMPULKAN SELURUH ANGGOTA KELUARGANYA DALAM RANGKA KELANJUTAN BERDAKWAH

                Sesudah Allah menurunkan ayat di atas (Fasdha’ bimaa tu’maru wa a’ridh ‘anil musyrikiin) sebagai perintah secara terang-terangan dikalangan bangsa Quraisy, maka dilanjutkan dengan turunnya ayat AI-Qur’an kepada beliau yang berbunyi:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ. وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ. فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ
                “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabat terdekat, dan rendahkanlah dirimu kepada orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab (lepas diri) terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Asy-Syu’aroo’: 214-216).

                Ketika Rasulullah menerima ayat di atas (wa andzir ‘asyiirotaka), maka beliau mengumpulkan kerabat-kerabat dekatnya dengan mengatakan: “Sesungguhnya seorang penunjuk tidak akan berdusta/mendustai keluarganya sendiri. Demi Allah, seandainya aku berdusta kepada manusia, maka aku tidak mendustai kamu; dan seandainya aku menipu manusia, maka aku tidak akan menipumu. Demi Allah, tiada Tuhan selain Dia (Allah); sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu khususnya dan umumnya kepada seluruh umat manusia. Demi Allah, sesungguhnya kamu sekalian akan mati sebagaimana kamu tidur dan kamu akan dibangkitkan sebagaiman kamu berjaga; dan sesungguhnya kamu akan dihisab menurut apa yang kamu kerjakan;amaI kebaikan akan dibalas dengan kebaikan dan amal kejahatan akan dibalas dengan kejahatan. Dan sesungguhnya balasan itu adalah berupa syurga selama-lamanya (bagi yang mengerjakan kebaikan); atau neraka selama-lamanya (bagi yang mengerjakan ama! kejahatan).”

Sumber:
- Ust. Maftuh Ahnan Asy, 2001. Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW. Yang Menerbitkan Terbit Terang: Surabaya.


Poster Dakwah Edisi Valentine dari MDC

                Sahabatku, sebentar lagi kebanyakan anak-anak muda seluruh dunia akan merayakan Hari Kasih Sayang atau yang lebih tenar distilahkan dengan Valentine Day.

                Momentum ini sangat disukai anak-anak remaja. Karena di hari itu, 14 Februari, mereka terbiasa merayakannya bersama orang-orang yang dicintai atau disayanginya, terutama kekasih. Valentine Day memang berasal dari tradisi Kristen Barat, namun sekarang momentum ini dirayakan di hampir semua negara, tak terkecuali negeri-negeri Islam besar seperti Indonesia. Baca disini tentang Valentine Day.

                MDC ( Muslim Designer Community) adalah sebuah wadah pemersatu desainer muslim untuk lebih aktif bergerak dalam kontribusi keshalihan sosial, saling berbagi ilmu dan memberi kemanfaatan nyata yang besar bagi umat islam. Silahkan gabung group facebook MDC DISINI.

Oke langsung saja dilihat Poster Dakwah Edisi Valentine Dari MDC. Semoga bermanfaat

















Sumber : https://www.facebook.com/groups/officialmdc


Kisah Teladan : Kun

KUN

Kumpulan Kisah Teladan Lengkap
 
                ABU Sulaiman (Ja’far) berkata: Saya berjalan-jalan di Bashrah bersama Malik bin Dinar. Ketika di jalanan kami bertemu dengan pemuda yang sangat tampan. Dia duduk mengawasi pembangunan gedung sambil menyuruh mengerjakan ini dan itu kepada tukang-tukangnya. Lalu Malik berkata kepadaku:
                “Lihat pemuda itu, alangkah tampan wajahnya, dan betapa rajin mengatur bangunan gedung itu! Aku ingin minta kepada Tuhan semoga menyelamatkan pemuda itu sehingga dia dijadikan pemuda ahli surga. Hai Ja’far, mari kita medekatinya!”
                Maka kami masuk memberi salam, lalu dijawab oleh pemuda itu padahal ia belum mengenal Malik bin Dinar.
                Pemuda itu berdiri dan menanyakan apa hajat keperluan kami.
                “Kira-kira berapa yang akan engkau keluarkan untuk membangun gedung ini?” tanya Malik bin Dinar.
                “Seratus ribu dirham.”
                Kata Malik: “Sukakah anda menyerahkan uang itu kepadaku, untuk saya letakkan pada tempatnya dan saya jamin untukmu di sisi Allah gedung yang lebih indah dari ini, lengkap dengan pelayan-pelayannya, kubah dan kemahnya dari sebutir yaqut yang merah bertaburan permata, tanahnya za’faran, semennya misik (kasturi) jauh lebih besar dan luas dari rencana gedungmu ini, tidak akan rusak selamanya, belum pernah disentuh oleh tangan, sebab terbangun oleh kalimat Allah KUN, maka terjadilah gedung itu?”
                “Biarkanlah aku malam ini, dan esok hari anda datang lebih pagi,” kata pemuda itu.
                “Baiklah,” kata Malik bin Dinar.
                Maka semalaman Malik memikirkan pemuda itu, dan pada waktu sahur ia banyak berdoa, dan pada pagi hari kami pergi menemui pemuda itu, tiba-tiba ia telah duduk menantikan kedatangan kami. Karena itu ia melihat Malik langsung tersenyum, dan bertanya:
                “Apa yang kamu katakan kemarin?”
                “Apakah kamu sanggup melaksanakan?” jawab Malik balik bertanya.
                “Ya,” jawab pemuda itu. Lalu dia menyediakan kampilan uang lalu menyediakan kertas dan dawat, kemudian di tulis:
Bismillahirrahmanirrahim
                Ini surat jaminan Malik bin Dinar untuk fulan bin fulan: “Sungguh saya menjamin sebuah gedung untukmu di sisi Allah sebagai ganti gedungmu ini, menurut bentuk dan sifat yang telah aku sebutkan, dan selebihnya dari itu terserah pada Allah. Dan saya telah membeli untukmu dengan uang ini, gedung di surga yang lebih luas dari gedungmu ini, di bawah naungan yang sejuk di sisi Tuhan Yang Maha Agung.
                Kemudian surat itu dilipat dan diserahkan pada pemuda itu, sedang uangnya kami pikul pulang. Maka dibagi-bagikan oleh Malik sehingga pada sore hari tiada tersisa kecuali untuk makan malam.

( Baca Juga : Kisah Teladan : Pohon Surga Yang Menjulur Ke Dunia )
                Setelah empat puluh hari, tiba-tiba Malik bin Dinar menemukan surat yang terletak di mihrab, pada saat dia mengerjakan shalat subuh. Ketika surat itu dibuka (dibaca), mendadak pada sampul tertulis tanpa dawat herbunyi:
                Ini bukti kebesaran Allah Yang Maha Mulia lagi Bijaksana kepada Malik bin Dinar. Kami akan menepati pada pemuda itu gedungnya yang anda jamin, bahkan tujuh puluh kali lipat.
Malik bin Dinar tercengang pembaca surat itu, lalu kami bangun dan pergi ke rumah pemuda itu. Tiba-tiba pintu rumah tertutup dan suara tangis di dalam rumah terdengar, lalu kami bertanya:
                “Apakah yang telah terjadi pada pemuda itu?”
                “Dia telah mati kemarin,” jawab mereka.
                Kemudian kami datangkan tukang yang memandikannya, dan kami bertanya: “Engkau yang memandikan itu?”
                ‘Ya, benar.” .
                “Coba ceritakan padaku bagaimana keadaannya?” tanya Malik selanjutnya kepada orang yang memandikan.
                “Sebelum mati ia berpesan kepadaku: Jika aku mati dan telah anda kafani, maka letakkan surat ini di dalam kain kafanku. Lalu saya penuhi permintaan itu, surat itu saya letakkan di antara kafan dan badannya, lalu saya kubur,” cerita orang tersebut kepada Malik.
                Kemudian Malik bin Dinar mengeluarkan surat yang dibawa, dan bertanya kepada orang tersebut: “Apakah ini?”
                “Ya, itu dia demi Allah yang mematikannya, saya telah meletakkannya di antara kafan dan badannya dengan tanganku sendiri.”
                Maka banyak orang menangis terharu dengan kejadian itu, sehingga ada pemuda yang bangun dan berkata: “Hai Malik, terimalah dariku 200.000 (duaratus ribu) dinar, dan berikan jaminan untukku seperti itu!”
                “Jauh sekali yang telah terjadi (setelah terjadi apa yang terjadi), dan yang tertinggal telah tertinggal, dan Allah menghukum sesuai dengan kehendak-Nya,” kata Malik bin Dinar.
                Maka tiap kali Malik bin Dinar mengingat pemuda itu, ia menangis dan berdoa untuknya.
                 Demikian Kisah Teladan yang berjudul Kun, semoga dengan membaca kisah tersebut kita bisa terinspirasi.
( Baca Juga : Kumpulan Kisah Teladan )

Sumber :
Drs. H.M. Sya’roni, 2003. Membuka Aib Saudara, Kisah-Kisah Teladan dari Kitab Darratun Nashihin dan Irsyadul Ibad. Yang Menerbitkan Mitra Pustaka: Yogyakarta.

Berdakwah Secara Terang-Terangan

18. BERDAKWAH DENGAN TERANG-TERANGAN


                Nabi Muhammad saw. dalam berdakwah secara sembunyi-sembunyi itu selama 3 tahun. Selama tiga tahun itu, banyak bangsawan dan pembesar Quraisy yang masuk Islam. Namun demikian, mereka dalam mengerjakan syariat Islam, mengerjakan shalat masih dalam sembunyi-sembunyi, khawatir akan mendapat ancaman dan gangguan dari kalangan Quraisy yang masih kafir.

                Sesudah itu Nabi Muhammad saw. mendapat perintah dari Allah untuk menyebarkan Islam/berdakwah secara terang-terangan, sebagaimana firman Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Hijr ayat 94:
                “Maka sampaikanlah olehmu (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang orang yang musyrik.”

                Ayat di atas adalah merupakan perintah bagi nabi untuk menyampaikan risalah Islam secara terang-terangan. Untuk menyampaikan perkara yang haq dan yang bathil; yang haq (benar) harus diikuti, dilaksanakan dan perkara yang bathil harus dijauhi.

                Maka sebagai langkah perwujudan dakwah terang-terangan ini, Rasulullah Muhammad saw. naik ke atas bukit Shofa dan menyeru kaum beliau: “Wahai bani Fihr! Wahai bani ‘Adi! Wahai suku-suku Quraisy!” Bahkan orang-orang yang tidak sempat keluar pada waktu itu mengutus orang lain untuk ikut mendengarkan berita dari Muhammad. Ketika mereka sudah berkumpul, lalu Nabi Muhammad saw. bertanya kepada mereka: “Apakah kamu membenarkan aku tentang apa-apa yang aku kabarkan kepada kalian?” Mereka semua menjawab: “Ya, tidak pernah kami dapati engkau berdusta wahai Muhammad, dari sejak masa kecilmu sampai sekarang.” Maka selanjutnya Rasulullah saw. bersabda: “Lepaskanlah diri kamu dari siksaan api neraka (yakni lepaskanlah dan tinggalkanlah kalian menyembah patung dan berhala dan sembahlah Allah); sesungguhnya aku seorang pengancam azab yang pedih kepada kamu.”

                Abu Lahab, paman Rasulullah saw. yang ikut mendengarkan khutbah itu, menyahut dengan ucapan: “Celakalah engkau wahai Muhammad! Apakah hanya untuk ini saja engkau kumpulkan bangsa Quraisy?” Lalu Allah menurunkan surat Al-Lahab sebagai balasan dan kutukan Allah atas diri Abu Lahab yang mengecam dan mengutuk Muhammad, saat beliau menyampaikan dakwahnya di bukit Shofa. Inilah bunyi ayatnya:
                “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia pasti binasa. Tidaklah berguna baginya harta bendanya dan apa-apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu puIa) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al-Lahab: 1-5).

                Istri Abu Lahab, dikatakan sebagai pembawa kayu bakar dalam ayat di atas, karena dia suka mengadu domba, penyebar fitnah, ia mengatakan kedustaan-kedustaan terhadap Rasulullah dalam perkumpulan-perkumpulan kaum ibu.

Sumber:
- Ust. Maftuh Ahnan Asy, 2001. Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW. Yang Menerbitkan Terbit Terang: Surabaya.

Kisah Teladan : Nabiyullah Khidhir

NABIYULLAH KHIDHIR
 

                AT THABRANIY meriwayatkan, bahwa Nabi saw telah bersabda: “Sukakah engkau jika saya bercerita kepadamu tentang Alkhidhir?”
                “Baiklah ya Rasulullah,” jawab para sahabat.
                Sabda Rasulullah: Pada suatu hari ketika Khidhir berjalan di pasar, ada seorang budak mukatab yang melihatnya. Lalu budak tersebut berkata:
                “Bersedekahlah kepadaku, semoga Allah memberkahimu.”
                “Aku percaya bahwa apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi. Saya tidak mempunyai sesuatu pun untuk kuberikan kepadamu,” jawab Khidhir.
                “Aku minta kepadamu biwajhillah (dengan Dzat Allah), bersedekahlah kepadaku, karena aku melihat wajahmu yang baik. Maka aku mengharapkan berkat pada kamu,” kata pengemis itu
                “Aku bersaksi kepada Allah, aku tidak mempunyai sesuatu apa pun yang dapat kuberikan kepadamu, kecuali jika kamu suka menjual diriku sebagai hamba,” jawab Khidhir.
                Lalu orang miskin itu bertanya: “Apakah boleh?”
                “Anda telah meminta kepadaku dengan menyebut nama Allah yang Maha agung, dan aku tidak dapat mengecewakan anda demi Dzat Tuhanku. Juallah aku!” kata Khidhir.
                Maka dibawanya Nabi Khidhir ke pasar dan dijualnya dengan harga empat ratus dirham. Maka tinggallah Khidhir di tempat pembelinya itu beberapa lama, tetapi tidak disuruh mengerjakan apa-apa.
                “Anda membeliku sebagai pelayan. Maka suruhlah aku untuk bekerja!” kata Khidhir kepada majikannya.
                “Saya khawatir akan memberatkan kepadamu. Anda sudah terlalu tua dan lemah,” kata majikannya.
                “Tiada sesuatu yang memberatkan diriku,” jawab Khidhir.
                “Pindahkan batu-batu itu,” kata majikannya. Biasanya batu-batu sebanyak itu tidak selesai dipindah dalam satu hari kecuali dikerjakan oleh enam orang. Tiba-tiba ketika majikan itu keluar untuk keperluan, maka sewaktu ia kembali melihat batu itu sudah selesai dipindahkan.
                “Baik sekali pekerjaanmu. Anda mempunyai kekuatan yang tidak kusangka-sangka,” kata majikannya.
                Kemudian pada suatu hari ia pergi jauh, lalu memanggil Khidhir: “Saya percayakan semuanya kepadamu, maka jagalah keluargaku dengan baik,” kata juragannya.
                “Suruhlah aku mengerjakan sesuatu!” kata Khidhir.
                “Saya kuatir memberatkan dirimu.”
                “Tiada ada sesuatu pun yang memberatkan aku,” kata Khidhir lagi.
                “Jika demikian, buatkan aku batu merah untuk membangun rumahku hingga aku kembali!” kata majikannya.
                Kemudian ketika majikannya kembali, ia melihat rumah sudah dibangun. Lalu majikannya bertanya: “Aku tanya kepadamu Biwajhillah, apakah halmu ini, apakah sebab kamu demikian ini?”
                “Anda telah bertanya kepadaku Biwajhillah, dan karena Biwajhillah itulah yang menjadikan aku budak. Sebenarnya aku adalah Khidhir yang sering anda dengar namanya. Pada suatu hari ada seorang miskin minta sedekah Biwajhillah kepadaku, dan telah saya katakan saya tidak mempunyai apa-apa yang akan saya berikan padanya. Tetapi ia minta Biwajhillah, maka saya serahkan diriku kepadanya, lalu ia menjual diriku. Dan kini aku beritakan kepadamu, bahwa siapa yang dimintai Biwajhillah lalu menolak orang yang meminta padahal la dapat memberinya, maka dia akan menghadap Allah pada hari kiamat nanti dengan tanpa daging dengan nafas yang tersengal-sengal,” Nabi Khidhir menjelaskan.
                “Aku beriman kepada Allah dan aku telah menyusahkan dirimu ya Nabiyullah. Andaikan aku mengetahui tentu hal ini tidak akan terjadi.”
                “Tidak apa, anda orang baik,” jawab Nabi Khidhir.
                Lalu majikannya berkata: ‘Ya Nabiyullah, silahkan atur rumah dan keluargaku sesukamu, atau jika anda minta merdeka, aku akan merdekakan,” katanya.
                “Aku suka merdeka untuk bebas beribadah pada Tuhanku,” jawab Nabi Khidhir.
                Maka Khidhir berdoa: Alhamdu lillah autsaqani fil ‘ubudiyati, tsumma najjani minha (Segalapuji bagi Allah yang mengikat aku dalam perhambaan kemudian menyelamatkan aku dari padanya). Semoga Allah menjadikan kami termasuk dalam golongan orang-orang yang berbudi baik dan membantu saudara-saudara yang mencapai surga.
Sumber :
Drs. H.M. Sya’roni, 2003. Membuka Aib Saudara, Kisah-Kisah Teladan dari Kitab Darratun Nashihin dan Irsyadul Ibad. Yang Menerbitkan Mitra Pustaka: Yogyakarta.

Orang yang Pertama Beriman

17. ORANG YANG PERTAMA BERIMAN DAN
MENYAMBUT RISALAH NABI MUHAMMAD


Orang yang pertama kali beriman kepada nabi, menerima risalah Muhammad saw. yaitu:
1. Khadijah binti Khuwailid. 
                Khadijah binti Khuwailid ini adalah istri Muhammad saw. Ia adalah seorang perempuan yang pertama kali beriman kepada Nabi Muhammad, seorang perempuan yang pertama kali menyemburatkan nur Islam di hadapan Muhammad saw. Ia betul-betul percaya atas kenabian dan kerasulan Muhammad saw. tatkala tampak olehnya tanda-tanda kenabian Rasulullah, semenjak perjalanan Muhammad ke Syam (Syiria) bersama pelayannya Maisarah. 

2. Ali bin Abi Thalib.
                Sejak kecil Ali ini mengikuti jejak dan langkah-langkah Nabi Muhammad, dan ia tidak ternoda sama sekali dengan noda jahiliyah yakni peribadatan berhala dan menuruti hawa nafsu. Oleh karena itu, Ali bin Abi Thalib ini mendapat gelar Karromallaahu Wajhah (Allah memuliakan dirinya).

3. Zaid bin Haritsah ibnu Syurahbil Al-Kalbi.
                Ia adalah seorang maula (budak yang dimerdekakan) Rasulullah. Dahulu ia disebut Zaid bin Muhammad, karena telah dibeli dan dimerdekakan oleh Muhammad dan diangkat menjadi anak asuh. Waktu itu anak yang diangkat dianggap anak sungguhan di mana ia mendapat harta dan diwaris pusakanya.

4. Ummu Aiman.
                Ummu Aiman adalah pengasuh Nabi Muhammad waktu masih kanak-kanak yang di kemudian hari, beliau menjodohkan Ummu Aiman dengan Zaid.
Selanjutnya dari luar lingkungan keluarga yang menerima ajaran dan risalah Rasulullah Muhammad saw. adalah:

5. Abu Bakar bin Abi Quhafah bin ‘Amir.
                Ia adalah teman akrab Nabi Muhammad saw. sebelum nubuwwat (diangkat menjadi nabi), la dikenal dengan akhlak karimahnya dan tidak pernah berdusta sejak mereka berdua bersahabat. Maka awal pemberitaan risalah Allah oleh Nabi diterimanya bulat-bulat tanpa berpikir Iebih panjang lagi dan dikatakannya: “Demi engkau, ayah ibuku menjadi tebusan, engkau adalah orang benar, aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya engkau adalah utusan Allah.”

( Baca Juga : Berdakwah Secara Terang-Terangan )
                Abu Bakar di tengah-tengah bangsa Quraisy adalah pemuka yang sangat disegani dengan kekayaan hartanya dan kemuliaan akhlaknya. Beliau (Abu Bakar) adalah orang yang ‘afif (menjaga kehormatan), dermawan yang mengorbankan hartanya, orang yang simpati dan mulia dalam pergaulan. Oleh perangai-perangainya itu beliau di hadapan Rasulullah saw. sepertinya sebagai wazir (menteri), di mana Rasulullah dalam banyak persoalan berkonsultasi kepada beliau, dan disabdakan: “Tidaklah aku mengajak seseorang kepada Islam kecuali di sana kesinisan selain Abu Bakar.”
                Secara diam-diam (sembunyi-sembunyi) Abu Bakar mengajak bangsa Quraisy untuk beriman kepada Nabi Muhammad,menerima ajaran yang dibawa olehnya. Di antara bangsa Quraisy yang menenima ajakan Abu Bakar ialah:

6. Usman bin Affan bin Abi Al-’Ash bin Umayyah bin Abdi Syam bin Abdi Manaf.
                Paman Usman yang bernama Al-Hakam, ketika melihat dan mengetahui keponakannya (Usman) menganut agama baru yang dibawa Muhammad, maka ia dicambuk bahunya serta dianiaya dengan berbagai aniayaan. Tetapi Usman tetap menganut agama Islam, dan meninggalkan agama nenek moyangnya. Waktu itu Usman sudah dewasa sekitar berusia 30 tahun.

7. Zubair bin ‘Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdi Al-Uzza bin Qushayy Al-Quraisy.
                Paman Zubair, ketika mengetahui keponakannya memeluk agama Islam, mengikatnya dan menyebulkan asap kepadanya supaya kembali kepada agama nenek moyangnya, maka Allah menguatkan imannya. Pada waktu itu usia Zubair masih remaja, belum akil baligh.

8. Abdurrahman bin Auf bin Abdi Auf bin Al-Harits bin Zuhrah bin Kilab.
                Di masa jahiliyah ia bernama Abdu ‘Amr. Oleh Nabi nama tersebut diubah menjadi Abdurrahman.

9. Sa’ad bin Abi Waqqash.
                Setelah masuk Islam, ibu Sa’ad, Hamnah binti Abi Sufyan berkata kepadanya: “Hai putraku, aku dengar kamu telah berpindah agama, maka demi Allah, aku akan lepas dari atap biar kepanasan dan kedinginan, makanan dan minuman haram bagiku, hingga kamu kufurkan Muhammad (kamu ingkari Muhammad) .“ Maka Sa’ad datang menghadap Nabi saw. mengadukan perihal ibunya yang telah menyumpainya sudah 3 hari. Maka sebagai pengajaran dalam hal ini turunlah firman Allah yang terdapat dalam surat Al- Ankabut ayat 8:
                “Dan Kami (Allah) wajibkan manusia (berbuat) baik kepada kedua orang tuanya (ibu bapaknya). Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku (Allah) dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya (jangan mentaatinya, tetapi tetap berkata yang baik dan sopan) Hanya kepada-Ku-lah tempat kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

10. Thalhah Ibnu Ubaidillah
                Ia sebelumnya telah dikenal sebagai rahib yang menuturkan kepribadian Rasulullah dan sifat-sifat beliau, maka ia cepat-cepat memeluk Islam ketika Abu Bakar mengajaknya, sesudah mendengar dari Rasulullah apa yang Allah jadikan bermanfaat baginya dan setelah melihat Islam dengan terang dan dia menjauh dari tindakan-tindakan aib yang digumuli bangsa Arab. Dan masih banyak lagi yang masuk Islam dalam dakwah secara sembunyi-sembunyi yang dilakukan oleh Nabi, misalnya:
- Abu Ubaidah Al-Jarrah.
- Abu Salamah.
- Al-Arqam bin Ali Al-Arqam.
- Usman bin Mazh’un.
- Qudamah bin Mazh’un.
- Abdullah bin Mazh’un.
- Ubaidah bin Al-Harits.
- Sa’id bin Zaid.
- Fatimah binti Al-Khathab.
- Asma’ binti Abu Bakar.
- ‘Aisyah binti Abu Bakar.
- Khabab bin Al-Arrat.
- Umar bin Abi Waqqash.
- Abdullah bin Mas’ud.
- Mas’ud bin Al-Qari.
- Sulaith bin Umar.
- Hatib bin Umar.
- Iya bin Abi Rabi’ah bin Al-Mughiroh.
- Asma’ binti Salamah.
- Asma’ binti Umair.
- Ja’far bin Abu Thalib.
- Hathib bin Al-Harits, dan lain-lain.

                Demikian orang yang pertama beriman dan menyambut risalah nabi Muhammad/orang yang pertama kali masuk islam.

Sumber:
- Ust. Maftuh Ahnan Asy, 2001. Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW. Yang Menerbitkan Terbit Terang: Surabaya.