Beranda · About · Daftar Isi · Kisah Teladan · Kisah Muallaf · Kisah 25 Nabi · Aplikasi · Kisah Nabi Muhammad

Perlakuan dan Gangguan Kaum Quraisy Kepada Sahabat Nabi Saw

22. PERLAKUAN DAN GANGGUAN KAUM QURAISY
KEPADA SAHABAT-SAHABAT NABI SAW

Perlakuan dan gangguan kaum quraisy terhadap sahabat nabi saw


            Setelah perlakuan dan gangguan yang dilancarkan pada Nabisaw. tidak membuat jerah, dan putus asa, bahkan Nabi bertarnbah semangat; akhirnya perlakuan dan gangguan itu dialihkan kepada para pengikut beliau, para sahabat-sahabatnya yang beriman kepada Nabi saw. Sebab menurut anggapan mereka karena penganiayaan terhadap mereka para sahabat itu tidak ada pembelanya, tidak ada keluarga yang menolongnya. Walaupun demikian tidak membuat luntur kepercayaannya kepada Nabi Muhammad. Mereka tetap berpendirian kepada yang haq, yangdibawa oleh Muhammad saw.
            Allah menguatkan mereka (para penganut agama yang dibawa oleh Muhammad) hingga kesudahan permasalahan itu ada di tangan mereka dan menjadilah mereka raja-raja dunia sesudah keadaan mereka yang lemah di atas permukaan bumi. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Qoshosh ayat 5 yang artinya:
            “Dan Kami (Allah) hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).”
            Mereka para sahabat Rasulullah saw. yang jadi sasaran para kaum Quraisy yang anti Nabi Muhammad saw. ialah di antaranya:
1. BilaI bin Rabbah
            Waktu itu Bilal bin Rabbah adalah budak milik Umayyah ibnu Kholaf, oleh tuannya dia diikat lehernya, dilempari batu oleh anak-anak untuk menjadi bola permainan mereka, ia diseret keluar rumah di padang pasir yang sangat panas dan dipanggang di atas pasir yang sedang panas itu dan di atas dadanya ditaruh batu yang besar. Maka yang bisa diperbuat oleh Bilal ialah ucapan: Ahad, Ahad, Allah itu Esa, Allah itu Esa. Ketika tuannya menawari dua pilihan apakah kamu teruskan memilih Muhammad mengikuti ajarannya atau menyembah Latta dan Uzza, Bilal masih mengucapkan: Allah itu Esa, Allah itu Esa.
            Pada saat berlangsungnya penyiksaan terhadap Bilal oleh tuannya, lewatlah Abu Bakar dan menyaksikan penyiksaan yang di luar kemanusiaan itu. Kata Abu Bakar kepada Umayyah (tuannya bilal): “Tidakkah kamu takut kepada Allah, lantaran menyakiti dan menindas orang yang tidak berdaya ini?” Jawab Umayyah: Kalau begitu selamatkan dia dari cengkeraman perbudakan ini.” Maka Abu Bakar membeli budak Bilal bin Rabbah dan akhirnya menjadi orang yang merdeka.
            Abu Bakar telah memerdekakan sebanyak 7 budak yang disiksa oleh tuannya karena mereka masuk Islam. Termasauk Bilal bin Rabbah dan ‘Amr bin Fuhairah.
            Sehubungan dengan penyiksaan Bilal bin Rabbah oleh tuannya Umayyah, maka turunlah firman Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Lail (92) ayat 14-21, yang artinya:
            “Maka Kami (Allah) memperingatkan kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang-orang yang paling celaka (Umayyah bin Kholaf), yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). Dan kelak akan dijauhkan orang paling takwa (Abu Bakar Ash-Shiddiq) dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.”
2. Ibunya Bilal
            Ibunya Bilai yang bernama Hamamah, juga ikut kena sasaran penindasan dan penyiksaan oleh kaum Quraisy yang antiMuhammad saw.
3. Amr bin Fuhairah
            Ia adalah seorang budak dan mendapat penyiksaan dan penganiayaan di luar kemanusiaan, sehingga ia berbicara di bawah sadar.
4. Abu Fukaihah
            Abu Fukaihah yang pada waktu itu menjadi budaknya Shafwan bin Umayyah bin Kholaf, juga tidak lepas dari sasaran penganiayaan dan penyiksaan dari tuannya.
5. Ummu ‘Unes
            Ia adalah bekas budak bani Zuhrah, juga menerima siksaan dan penganiayaan dari tuannya Al-Aswad bin Abdi Yaghuts.
6. ‘Ammar bin Yaasir, saudaranya, ayah dan ibunya
            Mereka ini telah mendapat siksaan dan penganiayaan dengan api. Ketika Rasulullah lewat dan melihat penyiksaan yang dilancarkan kepada Amar bin Yasir, saudara dan ibu bapaknya berkata: “Bersabarlah, hai keluarga Yasir, syurgakah tempat kalian kelak. Ya, Allah, ampunilah keluarga Yasir.”
            Ayah dan ibu Yasir meninggal dunia di bawah penyiksaan. Dan ‘Ammar sendiri menjalani penindasan yang besar, sampai terucaplah oleh lisannya kalimat “kekafiran”. Di mana Abu Jahal di hari yang sangat panas terik menyeretnya keluar rumah dan memakaikan baju besi bertumpuk. Waktu itu kaum muslimin berkata “Ammar telah kafir”, maka Nabi saw. bersabda: “Ammar penuh dengan iman, dan ujung kepalanya sampai telapak kakinya.”
            Dalam masalah ini Allah menyatakan pengecualian dalam hukum murtad, karena ucapan kekafiran dari Ammar itu adalah paksaan Abu Jahal:
            “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah rnenimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS. An-NahI: 106)
7. Khabbab bin Al-Arrat
            Ia adalah budak milik tuan Ummi Ammar. Sebelum diangkat menjadi Nabi, Muhammad adalah teman akrab Khabbab yang pada waktu itu Muhammad sebagai tukang besi. Maka sewaktu Allah mengangkat menjadi Nabi, Khabbab masuk islam. Dengan masuknya Islam Khabbab, maka tuannya Ammu Ammar menyiksanya dengan besi yang dipanaskan. Ditusuknya dari belakang badannya supaya ia mengingkari Nabi, tetapi yang demikian itu tidak menambahkan apa-apa, melainkan keimanannya.

Sumber:

Ust. Maftuh Ahnan Asy, 2001. Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW. Yang Menerbitkan Terbit Terang: Surabaya.
 

Kisah Teladan : Pedagang Kurma

PEDAGANG KURMA

Pedagang Kurma

                ATHIYAH BIN KHALAF adalah seorang pedagang kurma di Mesir. Dia pernah menjadi kaya, tetapi kemudian ia menderita kerugian sehingga jatuh miskin, sampai tidak mempunyai apa-apa kecuali sekedar penutup aurat semata.
                Ketika bulan Asyura’ dia mengerjakan shalat subuh di sebuah masjid, yaitu masjid Amr bin al-Ash. Dan biasanya masjid tersebut tidak dimasuki oleh orang wanita kecuali pada hari Asyura’, hanya sekedar untuk berdoa di dalamnya. Maka berdoalah Athiyah di tempat yang berjauhan dari wanita-wanita itu. Tiba-tiba didatangi oleh seorang wanita yang menuntun anak-anaknya dan berkata kepadanya:
                “Tuanku, saya mohon kepadamu, demi Allah, agar anda dapat melapangkan penderitaan kami, dan memberi makanan pada anak-anakku ini. Karena anak-anak ini telah menjadi yatim, ditinggal mati oleh ayahnya. Sementara itu ayahnya tidak meninggalkan apa-apa untuk mereka ini, dan saya seorang syarifah yang tidak kenal pada seorang pun untuk saya tuju di hari ini. Juga saya belum pernah keluar kecuali pada hari ini, karena terpaksa demi anak-anakku, padahal aku tidak biasa berbuat demikian.”
                Athiyah berkata dalam hatinya: “Aku sendiri tidak mempunyai apa-apa kecuali kain yang aku pakai. Sekiranya aku lepaskan di sini, terbukalah auratku. Tetapi bila aku tolak maka apakah jawabku di hadapan Rasulullah saw nanti?
                “Mari, pergi ke rumahku, aku akan memberi apa-apa padamu,” kata Athiyah selanjutnya.
                Maka berjalanlah mereka dengan anak-anaknya menuju rumah Athiyah. Dan sesampainya di sana, di depan rumah, Athiyah meminta agar wanita itu menunggu di muka pintu luar, kemudian ia membuka kainnya di dalam dan menutup auratnya dengan sisa-sisa kain yang sudah tidak dapat dipakai, lalu yang masih utuh itu diserahkan kepada wanita tersebut lewat sela-sela pintu, kemudian Athiyah tinggal di dalam. Maka wanita itu berdoa: “Semoga Allah memberimu pakaian dan perhiasan surga, dan semoga anda tidak berhajat lagi pada orang sesudah ini.”
                Maka Athiyah merasa sangat gembira mendengar doa wanita itu, lalu ia menutup pintu rumahnya, tinggal di dalam rumah dan berdzikir hingga malam, sampai akhirnya tertidur. Di dalam tidurnya ia bermimpi melihat bidadari yang amat cantik, belum pernah ia melihat wanita yang secantik itu. Dia membawa apel yang sangat harum, lalu menyerahkannya kepada Athiyah. Dan dibelahlah apel itu, tiba-tiba di dalamnya terdapat perhiasan surga yang tidak dapat dinilai meski dengan dunia seisinya. Kemudian bidadari itu memakaikan perhiasan tersebut kepadanya, lalu ia duduk di pangkuannya.
                “Siapakah kamu?” tanya Athiyah.
                “Aku Asyura’ isterimu di surga,” jawab bidadari itu.
                “Dengan apakah aku mencapai ini,” tanyanya lagi.
                “Dengan doa wanita janda dan anak-anak yatim yang anda tolong kemarin.” jawabnya kemudian.
                Maka Athiyah terbangun dari tidurnya dengan rasa gembira Sedangkan di sekelilingnya masih berbau harum. Maka segera ia berwudhu dan mengerjakan shalat dua rakaat, kemudian ia berdoa sambil melihat ke langit:
                “Ya Tuhan, bila impian ini benar, dan bidadari itu benar menjadi istriku, maka segeralah ambil ruhku ke sisi-Mu!”.
                Maka begitu selesai ia berdoa, Allah mencabut ruhnya kembali ke surga darussalam.
                Demikian Kisah Teladan yang berjudul Pedagang Kurma, semoga setelah membaca kisah tersebut bisa menginspirasi kita agar selalu bersikap baik pada seseorang.

Sumber :
Drs. H.M. Sya’roni, 2003. Membuka Aib Saudara, Kisah-Kisah Teladan dari Kitab Darratun Nashihin dan Irsyadul Ibad. Yang Menerbitkan Mitra Pustaka: Yogyakarta.

Kisah Nabi Hud Lengkap

NABI HUD ALAIHISSALAM

Kisah Nabi Hud Lengkap


                Tersebutlah sebuah kaum bernama Kaum ‘Ad. Kaum ini adalah salah satu contoh kaum yang melupakan Allah. Syaitan yang terkutuk telah menyesatkan hati dan pikiran Kaum ‘Ad ini. Adik-adik harus berhati-hati dengan syaitan. Bisikannya yang menghasut, bujukannya yang sesat dan menjerumuskan jangan sampai melemahkan iman kita kepada Allah.
                Kaum ‘Ad sepeninggal generasi Nabi Nuh Alaihissalam ini telah sesat. Mereka sungguh kurang menyadari bahwa segala sesuatu itu adalah anugerah Allah. Allah memberi kelebihan kepada mereka berupa bentuk badan dan perawakan yang besar dan kuat. Semua itu, sedikit dari nikmat yang diberikan Allah belum yang lain-lainnya. Tapi kesesatan mereka sudah parah dan juga tidak tahu bersyukur.
                Kaum ‘Ad menganggap bahwa pemberian yang mereka terima datang dari patung-patung yang biasa mereka sembah. Mereka berbuat begitu karena ikut-ikutan saja. Mereka beralasan bahwa bapak-bapak mereka sebelumnya juga terbiasa melakukan hal itu.
                Di tengah-tengah manusia-manusia sesat itu, Allah mengutus seorang hamba pilihan bernama Hud. Dia diangkat Allah sebagai nabi. Nabi Hud Alaihissalam adalah salah seorang anak-anak keturunan ‘Ad. Sedang ‘Ad adalah anak-anak keturunan dan putra Nabi Nuh Alaihissalam bernama Syam. Nabí Hud Alaihissalam menjadi penerus risalah dan bertindak pula sebagai pemberi peringatan bahwa hanya Allah saja yang harus disembah. Nabí Hud Alaihissalam mendatangi kaumnya, menyeru dan mengajak mereka untuk menaati Allah.
                Kaum ‘Ad menganggap remeh saja perkataan Nabi Hud. Sebagian Kaum ‘Ad yang sesat itu terdiri dari pemimpin-pemimpin di dalam kaum tersebut. Oleh karena itu mereka meremehkan seruan Nabi Hud untuk menyembah hanya kepada Allah. Berhala adalah tuhan mereka. Pemimpin-pemimpin Kaum ‘Ad ¡tu menganggap bahwa kenikmatan yang mereka peroleh berasal dan berhala yang mereka sembah.
                Nabi Hud Alaihissalam mendapat penolakan dari kaumnya. Syaitan telah membuat mereka melupakan Allah dan mengagungkan berhala. Bukankah patung-patung yang mereka sembah itu adalah buatan mereka sendiri? Bagaimana mungkin berhala buatan mereka sendiri bisa menjadi tuhan yang dapat memberikan segala kenikmatan? Sedang Allah adalah Tuhan yang mampu menciptakan bumi dan langit serta isinya. Maka sungguh hanya Allah-lah yang wajib diimani dan ditaati.
                Nabi Hud Alaihissalam terus berdakwah. Walaupun pengikutnya hanya sedikit, Nabi Hud tidak putus asa untuk menyampaikan kebenaran. Kaum ‘Ad tetap tidak mempercayai ajaran Nabi Hud Alaihissalam. Mereka tetap menganggap berhala adalah Tuhan mereka.
                Seruan dan ajakan Nabi Hud Alaihissalam benar-benar tidak mereka hiraukan. Tidak sedikit pun mereka ingin pergi meninggalkan berhala yang menjadi tuhan-tuhan mereka. Mereka justru menantang agar Allah menimpakan azab jika Nabi Hud benar utusan Allah. Jangan ditiru ya Adik-adik. Perkataan Kaum ‘Ad itu sama dengan melawan Allah. Perbuatan melawan Allah adalah perbuatan durhaka. Maka Allah mendatangkan azab. Sesungguhnya ancaman Allah pasti datang tanpa mereka minta karena kesesatan Kaum ‘Ad tidak terampunkan lagi.
                NabiHud Alaihissalam bersama pengikutnya meyakini bahwa Allah murka kepada Kaum ‘Ad. Akhirnya ancaman-Nya itu datang. Allah membuat kehidupan Kaum ‘Ad serba susah. Tanah pertanian menjadi kering, sumber mata air mereka tidak lagi mengalir, peternakan mereka tak terurus lagi, sedang hidup mereka sendiri juga susah.
                Dalam keadaan seperti itu, mereka masih mengharap berhala mereka datang menolong. Suatu ketika serombongan awan-awan di langit menggantung. Mereka terasa sangat senang. Mereka pikir hujan akan segera turun dan mengakhiri kesusahan mereka. Namun Allah menunjukkan kebesaran-Nya. Awan-awan itu bukan datang membawa hujan tapi membawa azab bagi Kaum ‘Ad. Keluarlah dari gumpalan awan tersebut angin dahsyat yang sangat panas dan hebat.
                Kaum ‘Ad terperangah, bukan hujan yang datang kepada mereka tapi tiupan angin yang kencang lagi membinasakan. Lenyaplah semua Kaum Ad yang sesat dan durhaka itu. Mereka telah mendapat azab dari Allah hingga yang tersisa hanyalah bangunan-bangunan mereka saja.
                Sedang Nabi Hud Alaihissalam dan pengikutnya semua selamat, semakin bertambahlah keimanan mereka kepada Allah. Mereka berlalu dari tempat tersebut dan membangun kehidupan baru yang penuh ketaatan kepada Allah.
Hikmah Nabi Hud Alaihissalam :
  1. Segala kenikmatan adalah pemberian dari Allah, mengingkari dan menyekutukan-Nya akan mendatangkan azab.
  2. Meyakini sungguh-sungguh bahwa bertakwa dan beriman kepada Allah adalah ajaran yang lurus.
  3. Tidak meyakini berhala atau patung-patung sebagai Tuhan, semua itu hanya buatatan manusia saja
Kisah Nabi Hud Alaihissalam di dalam Mushaf al-Qur’an terdapat pada:
(aI-A’raaf: 65-72), (Fushshilat: 15-17), (Huud: 50-60),(asy-Syu’araa’: 123-139), (al-Ahqaaf: 21-28), (aI-Haqqah: 6-8).

Sumber :
Hendro Trilaksono, 2014. Kisah 25 Nabi dan Khulafaur Rasyidin. Yang Menerbitkan Mutiara Media: Yogyakarta

Perlakuan dan Gangguan Kaum Quraisy Terhadap Nabi Muhammad

21. PERLAKUAN DAN GANGGUAN KAUM QURAISY
KEPADA RASULULLAH MUHAMMAD SAW

gangguan kaum quraisy terhadap nabi muhammad

Mulailah kaum Quraisy melancarkan gangguan dan cemohan kepada Nabi Muhammad saw. baik dengan ucapan atau tindakan. Diantara kaum Quraisy (anti Muhammad) yang melancarkan gangguan kepada Nabi Muhammad saw. ialah:
   
1. AbuJahal

Abu Jahal ini adalah gembongnya/Pimpinan kelompok mustahzin (yang menghina) Nabi Muhammad saw. Nama aslinya ialah Amr bin Hisyam bin Al-Mughiroh.

Di antara bentuk gangguan yang dilancarkan Abu Jahal kepada Nabi Muhammad ialah: Pada suatu hari ia melarang dan menghalangi Rasulullah saw. untuk tidak mengerjakan shalat di Baitullah. Suatu ketika dikatakan setelah dilihatnya Rasulullah shalat:“Tidakkah aku telah melarangmu dari perbuatan itu?” Abu Jahal mengeluarkan kata-kata kasar dan keras kepada Rasulullah dan bahkan mengancamnya. Maka Rasulullah pun berkata:“Apakah engkau akan mengancamku dan menggertakku, padahal aku seorang yang banyak harta, dan yang paling banyak kelompoknya?” Lalu turunlah firman Allah sebagai ancamar terhadap Abu Jahal:

“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya,(yaitu)ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Allah).”
(QS. Al-’Alaq: 15-19).

Di antaranya lagi bentuk gangguan Abu Jahal ialah: ia melempari Nabi waktu sujud dengan kotoran unta, sehingga seluruh tubuh Rasulullah berlumuran dengan kotoran unta, tetapi Nabi tetap sujud, tidak ada seorang pun yang menolongnya sebab takut kepada Abu Jahal; hingga datang putri Rasulullah yang bernama Fatimah, lalu oleh Fatimah kotoran unta itu dibuang olehnya.

2. Abu Lahab

Abu Lahab bin Abdul Muthallib adalah keluarga Nabi Muhammad saw. ia paman beliau. la termasuk orang yang paling jahat dan benci kepada Rasulullah dari pada orang yang jauh nasabnya.
Bentuk gangguannya ialah: ia pernah melempari rumah Rasulullah dengan kotoran. Demikian juga istri Abu Lahab, Ummu Jamilah binti Harb bin Umayyah sering mengumpat Rasulullah dan membuat kedustaan yang lebih tajam sesudah turunnya surat Al-Lahab. 
3. ‘Uqbah bin Ahi Mu’aith

Ia adalah tetangga Rasulullah dan bekerja sama dengan Abu Lahab dalam mengganggu Rasulullah.



Pada suatu hari ia melihat nabi sedang bersujud lalu ia mencekik nabi dengan keras. Maka datanglah Abu Bakar menolongnya dan melepaskannya seraya berkata: “Apakah kamu hendak membunuh orang yang berkata: Tuhanku Allah, sedang ia datang kepada kamu dengan membawa keterangan-keterangan dan Tuhan kamu?”

Di antara bentuk kejahatannya lagi, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahihnya ialah: Di saat nabi sedang melakukan shalat di Hijr Ismail tiba-tiba ‘Uqbah menghampiri dan dililitkannya kain pada leher Rasulullah, dijeratnya kuat-kuat, maka Abu Bakar datang. Dipeganginya bahu Nabi dan dibelanya dari ulah ‘Uqbah seraya berkata: “Apakah kamu hendak membunuh seseorang, lantaran dia mengatakan bahwa Tuhanku
Allah, sedang dia datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dan Tuhanmu?”

4. Al-’Ash bin Wail

la adalah ayahnya Amr bin Al-’Ash, ia sangat memusuhi Rasulullah saw. Pernah dia berkata: “Muhammad telah menipu sahabat-sahabatnya bahwa (katanya) mereka itu akan hidup lagi sesudáh mereka mati. Demi Allah, tidaklah membinasakan kami selain masa, maksudnya tidak ada kehidupan lagi sesudah kita mati ini.” Maka Allah menurunkan ayat yang sebagai penangkis atas perkataan mereka itu:


“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di duma ini saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyaipengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-dugasaja.” (QS. Al-Jatsiyah: 24).

5. Al-Aswad bin Abi Yaghuts
 
Ia dan bani Zuhrah, paman Rasulullah dan pihak ibu. Al-Aswad ini apabila melihat Rasulullah selalu berkata sebagai penghinaan (ejekan): “Hari ini kamu Muhammad tidak ngomong dari langit?”

6. Al-Aswad bin Abdul Muthallib

Ia ini adalah anak paman Khadijah. la dengan dibantu teman-temannya main mata menghina kaum muslimin yang lewat dihadapan mereka. Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

‘Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang mentertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lewat di hadapannya, mereka saling berkedipan mata (mengejek), dan apabila mereka kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan suka ria. Dan apabila mereka melihat orang-orang yang beriman, mereka berkata: “Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Muthaffiflin: 29-3 2).

7. Al-Walid bin Al-Mughiroh
 
la adalah paman Abu Jahal.
Al-Walid pernah berkata di hadapan kalangan kaum Quraisy bahwa Muhammad itu tidak lain adalah seorang penyihir. Dan tidak lain Muhammad itu adalah orang yang memecah belah antara seseorang dengan keluarganya, dengan anaknya, dengan budak-budaknya. Padahal semua lontaran kata-kata serta tuduhan semacam itu tidak ada pada diri Rasulullah. Hal itu diucapkan oleh Al-Walid adalah sebagai bahan ejekan dan provokator belaka.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Muddatstsir (74) ayat 11-26, Allah berfirman kepada Rasulullah saw. sehubungan dengan Al-Walid ini (yang artinya):
“Biarkanlah Aku (Allah) yang bertindak terhadap orang yang Aku ciptakan sendiri, dan Aku berikan kepadanya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu menyertainya, dan Aku melapangkan kepadanya (kehidupan) yang selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak, sesungguhnya adalah dia menentang ayat-ayat Kami. Akan Aku timpakan kepadanya siksaan yang keras. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan, lalu dia celaka, bagaimanakah dia (bisa) menetapkan, kemudian dia celaka (lagi) bagaimana dia menetapkan, kernudian dia memperhatikan, kemudian dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia membelakang dan menyombongkan diri, lalu dia berkata:
“Tidakkah Al-Qur’an ini melainkan sihir yang dipelajari (dan orang-orang dahulu), tidaklah Al-Qur’an ini melainkan perkataan manusia.” Kelak Aku rnemasukkannya ke dalam neraka Saqar.”

8. An-Nadhar bin Al-Harits
 
Apabila Rasulullah saw. ketika berada dalam majelis membicarakan tentang kejadian-kejadian yang menimpa kaum-kaum terdahulu sebagai peringatan kepada umat sekarang, maka dia (An-Nadhar) berkata kepada kaumnya (yang anti dengan Muhammad): Kemarilah, wahai, bangsa Quraisy! Aku punya cerita baik dari Muhammad. Kemudian dia (An-Nadhar) bercerita tentang raja-raja Persia, maklum dia hanya tahu ceritanya raja-raja Persia saja dan dia berkata: “Pembicaraan-pembicaraan Muhammad itu tidak lebih dari sekadar cerita-cerita manusia purba.

Perbuatan dan tindakan dan An-Nadhar ini telah disinggung oleh Allah dalarn firman-Nya surat Luqman ayat 6: “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.”

Semua ejekan, cemoohan dan gangguan yang dilancarkan oleh kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad saw. beliau hadapi dengan sikap sabar, tidak lekas marah, lemah lembut dan suka memaafkan.

Dan Allah-lah yang memberikan balasan kepada para pengejek (kelompok mustahzi-in) itu sesudah hijrahnya nabi di antara mereka ada yang terbunuh dan ada yang binasa karena penyakit-penyakitnya sendiri.

Allah memberikan balasan kepada masing-masing dari mereka (kaum mustahzi-in) terhadap risalah Nahi Muhammad sebagaimana yang dituturkan oleh Allah dalam firman-Nya:

Seunguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), yaitu orang-orang yang menganggap adanya Tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya).” (QS. A1-Hijr: 95-96).

Janji Allah dalam ayat di atas menggunakan fi’il madhi(kafainaaka), itu menunjukkan suatu “kepastian” tibanya ayat tersebut (QS. Al-Hijr) adalah ayat Makkiyah (turun sebelum hijrah) sedang kebinasaan para pengejek dan pengganggu Nabi saw. tenjadi sesudah
hijrahnya Nabi. Sebagian dari mereka terbunuh, seperti Abu Jahal, Al-Nadhar bin Al-Harits dan ‘Uqbah bin Mu’aith, dan sebagian lagi menderita penyakit-penyakit berat kemudian meninggal dunia seperti Abu Lahab, Al-’Ash bin Wail dan Al-Walid bin Al-Mughiroh.

Sumber:
Ust. Maftuh Ahnan Asy, 2001. Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW. Yang Menerbitkan Terbit Terang: Surabaya.