Beranda · About · Daftar Isi · Kisah Teladan · Kisah Muallaf · Kisah 25 Nabi · Aplikasi · Kisah Nabi Muhammad

Abu Hafsh, Mujahid dari Bumi Syam

Abu Hafsh, Mujahid dari Bumi Syam
Kehidupan Abu Hafsh
Menurut penuturan beberapa orang terdekatnya, sejak kecil Abu Hafsh (Umar Lathuf) ini sudah memiliki akhlak yang mulia. Kesehariannya hampir tidak disibukkan dengan hal-hal melalaikan, tidak sebagaimana teman sebayanya yang senang bermain.

Ketika mengenyam pendidikan di perkuliahan, ia mulai aktif berdakwah serta membuat video-video yang membakar semangat kaum muslimin untuk berjihad. Qadarullah, diantara teman-temannya ada yang menjadi seorang mata-mata untuk pemerintah dan melaporkan tindakannya tersebut, akhirnya menyebabkannya mendekam lama di penjara.

Banyak hal yang Abu Hafsh alami di penjara. Berbagai macam bentuk siksaan mulai yang berbentuk verbal sampai kekerasan fisik sebagaimana tahanan-tahanan lain yang ada di sana.

Perlu diketahui, Abu Hafsh mendekam dipenjara kurang lebih 5 tahun lamanya. Dan jangan samakan penjara Suriah dengan penjara di negeri kita. Kebanyakn penjara di sana diisi oleh orang-orang yang berusaha memelihara dan berpegang teguh dengan Islam (padahal normalnya penjara berisikan orang-orang kriminal ed.).

Demikianlah alasan Basyar al-Asad menjaga dan mempertahankan keharmonisan serta kerukunan antar umat beragama, padahal hakikatnya hanya untuk melanggengkan kekuasaannya. Ia tidak membiarkan para muthowwi’in (orang yang menampakkan sunnah) bebas menjalankan sunnah. Akhirnya banyak masjid sepi oleh jamaah muda dan kebanyakan diisi oleh orang orang tua.

Bahkan penduduk Suriah pun baru bisa berhaji dan umroh jika sudah berumur 62 tahun. Dan kuliah atau belajar agama hanya bisa dilakukan di Damaskus saja yang notabene dikelilingi oleh mukhobarot (intelijen negara) yang siap menangkap siapa saja yang punya kecendrungan melawan negara. Walhasil para pelajar ini kebanyakan menjadi ulama yang pro dengan pemerintah.

Kembali ke Abu Hafsh, 5 tahun tidaklah ia habiskan dalam kesia-siaan. Karena dalam rentang waktu tersebut Abu Hafsh menyelesaikan hafalan Alquran-nya beserta berbagai macam tafsir oleh para mufassirin, serta banyak sekali hadits yang ia hafal dan ilmu-ilmu diniyah lainnya.

Penjara adalah madrasah bagi para mujahidin. Terbukti beberapa calon pemimpin Ahrar Syam dipertemukan serta belajar bersama di penjara. Tampaknya Allah menakdirkan untuk mempertemukan mereka dengan cara di luar akal kita. Dan taukah Anda? Pemimpin tertinggi serta para amirul liwa (pemimpin yang ditmpatkn di provinsi-provinsi Suriah) di Ahrar Syam rata-rata adalah para penghafal Alquran.

Awal tsauroh (revolusi), adalah awal yang memilukan yang disusul banyak peristiwa memilukan lainnya yang dialami oleh penduduk Suriah. Lima bulan setelah pecahnya revolusi, pemerintah memutuskan untuk membebaskan para tahanan dengan tujuan menarik kembali simpati rakyat sekaligus meredam emosi mereka. Orang-orang yang dibebaskan ini di antaranya adalah Abu Hafsh dan pemimpin-pemimpin Ahrar Syam lainnya.

Namun kenyataan tidak sebagaimana yang dibayangkan oleh pemerintah. Dengan keluarnya para penghafal Alquran ini semakin membuat semangat rakyat untuk keluar dari penjara tirani yang sekian puluh tahun telah mengekang kebebasan mereka dalam beragama. Dan dari sinilah Ahrar Syam terbentuk.

Keluar dari penjara, Abu Hafsh pun ikut terjun di berbagai medan laga di kota Hammah/Homs sebelum akhirnya pulang ke kampung halamannya di Ihsim bagian dari Idlib. Di Ihsim ia pun dipercaya untuk memimpin Ahrar Syam untuk menjadi amir provinsi Idlib. Teman-teman keluarga dan kerabatnya suka cita menyambut kepulangan Abu Hafsh.

Keadaan di Maqor (markas) Ahrar Syam
Abu Hafsh merupakan orang yang sangat dinanti nanti oleh teman-teman mujahidin di markas Ahrar Syam. Karena akhlak dan tutur katanya inilah ia dicintai oleh teman-teman mujahidin. Setiap ia tiba, banyak teman-teman yang mengerumuninya laksana lebah yang mengerumuni bunga. Yang didapat oleh teman-teman tidak lain adalah manfaat berupa nasihat yang tidak keluar dari mulutnya melainkan Alquran dan sunnah. Sampai sampai teman-teman mujahidin mengagumi Abu Hafsh betapa mendalam hafal Alquran dan hadits yang ia miliki. Beberapa kali teman-temannya dibuat kagum karena Abu Hafsh tidak hanya hafal, namun mampu menunjukkan nomor ayat yang disebutkan sekaligus tafsirannya dengan gaya penyampaian yang serta susunan bahasa yang mudah difahami.

Perang di Bulan Ramadhan
Saat itu merupakan Ramadhan ketiga pasca pecahnya revolusi di Suriah. Walaupun Ramadhan tiba, hal ini tidaklah menyurutkan kebuasan tentera pemerintah untuk membombardir perkampungan penduduk. Itu pun sudah diantisipasi oleh para mujahidin sebagaimana pengalaman Ramadhan sebelumnya. Begitu pula Abu Hafsh yang masih ikut bertempur walaupun sedang berpuasa.

Tepat Ramadhan ketiga hari Jumat, Abu Hafsh yang bertugas untuk mengambil persediaan senjata dan amunisi lainnya ditemani oleh seorang sahabatnya. Ditengah-tengah medan pertempuran, roket meluncur tepat mengarah ke mobil yang dikendarai Abu Hafsh.

Sebelumnya, tiga hari sebelum masuk bulan Ramadhan, Abu Hafsh pernah sempat menuturkan keinginannya kepada beberapa teman dekatnya. Ia mengatakan “Aku ingin syahid pada Ramadhan tahun ini dalam keadaan pecah berkeping keping dan Allah telah mengampuni dosa-dosaku.”. Ini dituturkan oleh beberapa teman dekat Abu Hafsh.

Tampaknya Allah pun menjawab doa Abu Hafsh. Roket itu membuat hancur berantakan mobil beserta penumpangnya. Hari itu, hari terwujudnya keinginan Abu Hafsh. Hari yang membahagiakan dirinya. Hari yang memotivasi teman-temannya untuk mencapai kedudukan sebagaimana yang ia capai. Hari melepaskan kerinduan kepada Penciptanya.

Tubuh itupun dikumpulkan kepingan demi kepingan. Hanya decak kagum dan saut-menyaut suara takbir yang terucap dari teman-teman, keluarga, serta penduduk di kota Ihsim itu. Tatkala dikumpulkan potongan-potongan itu dalam suatu ruangan, bukanlah bau amis darah yang tercium, melainkan semerbaknya wangi kasturi yang memenuhi ruangan. Sungguh fenomena yang jarang terjadi. Banyak teman-teman yang mengambil potongan baju Abu Hafsh yang masih menyisakan wangi misik yang kentara yang mana sempat pula kami cium aromanya.

Hanya rasa kagum dan iri yang tersisa dalam diri kami. Yang membuat kami cinta dan menumbuhkan harap dan kerinduan untuk bertemu dengan sang pemilik wangi itu. Sungguh indah prjalanan hidupmu wahai Abu Hafsh. Yang selalu kau isi dengan ketaatan kepada Allah.

Abu Hafsh (Umar Lathouf) pemimpin Ahrar Syam provinsi Idlib, penghafal kitabullah, dan hadits Rasulullah, telah meninggal pada hari Jumat, Ramadhan 143H, 2 minggu sebelum kedatangan tim relawan Peduli Muslim dan Yufid TV gelombang ke-2. Dalam keadaan hancur berkeping-keping dan doanya didengar Allah Ta’ala, jenazahnya harum semerbak kasturi.
Ditulis oleh Adam ash-Shiddiq (Relwan Peduli Muslim dan Yufid TV)

Biografi al-Hafizh adz-Dzahabi

 imam adz-dzahabi



Nasab al-Hafizh adz-Dzahabi

Beliau ialah: al-Imam al-Hafizh, ahli sejarah Islam, Syamsuddin, Abu Abdillah, Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah at-Turkmani al-Fariqi asy-Syafi’i ad-Dimasyqi, yang terkenal dengan adz-Dzahabi.

Kelahiran dan Pertumbuhan adz-Dzahabi

Beliau dilahirkan pada Rabiul Akhir 673 H di sebuah desa bernama Kafarbatna di dataran padang hijau Damaskus, di tengah sebuah keluarga yang berasal dari Turkmenistan, yang ikut secara wala kepada kabilah Bani Tamim, dan mereka menetap di kota Mayyafarqin dari daerah Bani Bakar yang paling terkenal.
Adz-Dzahabi tumbuh di tengah keluarga yang cinta ilmu dan beragama. Keluarga inilah yang memberikan perhatian kepada beliau dengan mengirimnya kepada para syaikh kota Damaskus yang terkenal. Dan adz-Dzahabi telah berhasil mendapat ijazah dari mereka ketika masih kecil, sewaktu umurnya belum genap delapan belas tahun, perhatian dan orientasinya sangat jelas untuk menuntut ilmu.
Perhatiannya bermula kepada ilmu qiraah dan hadis; dan yang mendorongnya ke arah itu adalah kecerdasaannya yang sangat jenius dalam berdiskusi dan memahami ilmu, dan kemampuannya yang luar biasa dalam mengingat dan menghafal, serta cita-citanya yang tinggi untuk bertemu para ulama dan berpetualang dalam menuntut ilmu.
Adz-Dzahabi telah mencurahkan kesungguhan dalam mengambil kedua disiplin ilmu itu secara langsung dari syaikh-syaikh negeri Syam yang paling masyhur pada masa itu. Kemudian beliau bertualang ke Mesir dan Syam, dan beliau mengunjungi lebih banyak kota untuk tujuan yang mulia ini, hingga ilmu yang digapainya menjadi perumpamaan (tauladan). Nama beliau pun mulai bergaung di dunia Islam, dan para penuntut ilmu berdatangan dari segala penjuru, setelah beliau menjelma menjadi seorang imam dalam ilmu qiraah, syaikh penghafal hadis yang ulung, seorang ulama yang unggul dalam kritik hadis, dan ternama sebagai hujjah dalam al-Jarh wa at-Ta’dil.

Aktivitas Keilmuan dan Kedudukan adz-Dzahabi

Adz-Dzahabi sempat menduduki sejumlah jabatan keilmuan di kota Damaskus, di antaranya: pemberi khutbah, pengajar, menjadi syaikh agung di sejumlah perguruan hadis, seperti Dar al-Hadis di Turbah Umm ash-Shalih, Dar al-Hadis azh-Zhahiriyah, Dar al-Hadis wa al-Qur’an at-Tankiziyah, dan Dar al-Hadis al-aFadhiliyah.
Dan semua kesibukan ini tidaklah menghalanginya untuk melakukan penelitian akademis dan penulisan karya tulis. Bahkan beliau telah meninggalkan kekayaan ilmiah yang besar dan penuh berkah, di mana kitab-kitab dan karya tulis beliau mencapai 215 buah yang mencakup disiplin: qiraat, hadis, mushthalah hadis, sejarah, biografi, akidah, ushul fiqh, dan raqa’iq (ilmu etika berbicara).
Di antara karya tulis tersebut adalah:
- Tarikh al-Islam, setebal 36 jilid, dan telah dicetak sebanyak 5 jilid darinya di Kairo, Mesir.
- Siyar A’lam an-Nubala, setebal lebih dari 20 jilid, dan telah dicetak di Beirut 13 jilid.
- Mizan al-I’tidal, setebal 4 jilid
Al-Ibar fi Khabar man Ghabar, telah diterbitkan di Kuwait dalam 5 jilid.
- Al-Mughni fi adh-Dhu’afa, terbit 2 jilid.
- Al-Kasyif, terbit 3 jilid.
- Tadzkirah al-Huffazh, terbit bersama Dzail Tadzkirah al-Huffazh, dalam 3 jilid.

Pujian Para Ulama Terhadap adz-Dzahabi

Di antara yang menegaskan bahwa Imam adz-Dzahabi telah mencapai puncak menjulang tinggi dalam berbagai ilmu; hadis, sejarah, biografi para tokoh, adalah ucapan dan pujian para ulama yang segenerasi dan para muridnya.
Di antaranya apa yang disebutkan dari Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Asqalani bahwasanya beliau berkata, “Aku pernah minum air Zamzam agar aku mencapai derajat Imam adz-Dzahabi dalam menghafal.”
Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata tentang beliau, “Syaikh-syaikh ahli hadis dan para penghafal ulungnya telah ditutup dengan (keberadaan) beliau…”
Murid beliau, Tajuddin as-Subki dalam Syadzarat adz-Dzahab berkata, “Guru kami, Abu Abdullah adalah seorang ulama hebat yang tidak ada bandingnya. Beliau adalah gudang perbendaharaan ilmu, tempat kembali ketika permasalahan rumit turun, imam semua orang dalam hal hafalan, emasnya zaman secara makna dan lafazh, syaikh al-Jarh wa at-Ta’dil, pemuka para tokoh pada setiap jalan; seakan-akan umat telah dikumpulkan pada padang yang satu lalu beliau melihatnya mulai memberitakan dari para rawi sebuah riwayat sebagaimana orang-orang yang hadir memberitakan…”
As-Suyuthi dalam Dzail Tadzkirah al-Huffazh berkata, “Yang ingin saya katakan, ‘Sesungguhnya ulama-ulama hadis sekarang dalam sub disiplin kritik rawi dan disiplin-disiplin hadis lainnya membutuhkan pada empat sosok: Imam al-Mizzi, Imam adz-Dzahabi, Imam al-Iraqi, dan al-Hafizh Ibnu Hajar’.”
Dan ash-Shafadi berkata tentang beliau dalam al-Wafi bi al-Wafayat, “Pada diri beliau tidak ada sikap monoton (sebagaimana sebagian) ulama hadis, akan tetapi beliau adalah seorang yang memiliki hati yang paham, beliau memiliki pemahaman yang laus tentang pandangan-pandangan ulama.”

Adz-Dzahabi Wafat

Di akhir hidupnya Adz-Dzahabi terkena cobaan, dan hidup tujuh tahun dalam kebutaan. Kemudian beliau wafat malam Senin 3 Dzulqa’dah 748 H, dan dimakamkan di Bab ash-Shaghir di Damaskus. Tajuddin as-Subki mengenang beliau dengan baris-baris sya’ir, yang bagian awalnya:
Siapa lagi yang akan menuntut ilmu hadis dan sejarah
Setelah wafatnya Imam al-Hafizh adz-Dzahabi
Siapa lagi yang akan menyebarluaskan riwayat dan khabar.
Di antara manusia, non Arab maupun Arab.
Siapa lagi yang akan menghafal kandungan hadis dan atsar.
Dengan kritik terhadap pemalsuan orang-orang sesat dan pendusta.
Siapa lagi yang akan tahu bagaimana menyelesaikan riwayat yang mu’dhal.
Hingga memperlihatkan kepada Anda jelasnya keraguan.
Beliau adalah imam yang riwayatnya mengenyangkan dan para muridnya yang berbakat memenuhi bumi.
Beliau seorang yang memiliki hafalan kokoh, jujur, penuh pengalaman,
Penghafal hadis yang ulung, terjaga dalam meriwayatkan
Yang beritanya lebih jujur dari kitab-kitab.
Semoga Allah melimpahkan rahmat yang luas bagi Imam adz-Dzahabi, dan mengampuni untuk kita semua dan untuk beliau, serta mengumpulkan kita dengan beliau di bawah bendera Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Sumber: 76 Dosa Besar yang Dianggap Biasa, Al-Imam Al-Hafizh adz-Dzahabi, Tahqiq Muhyiddin Misti, Darul Haq Cetakan 3 2011/1432 H [Kisah Muslim]

Balasan Mengerikan Bagi Pencela Sahabat Nabi

azab mengerikan penghina islam 
Pelajaran Mengerikan bagi para pencela Sahabat Nabi -shallallahu alaihi wasallam-

Izzuddin Yusuf Al-Mushili mengisahkan:
Dulu kami punya teman, namanya: Asy-Syams Ibnul Hasyisyi, dia biasa MENCELA Sahabat Abu Bakar dan Umar -radliallahu anhuma- dan ia berlebihan dalam hal itu…

Maka kukatakan kepadanya: “Ya Syams, sungguh buruk bila kamu mencela mereka, apalagi kamu sudah tua! Apa urusanmu dengan mereka, mereka sudah tiada sejak 700 tahun, dan Allah berfirman (yang artinya): ‘Itulah umat yang telah lalu’!”.

Tapi jawaban dia: “Demi Allah, demi Allah.. Abu Bakar, Umar, dan Utsman benar-benar di Neraka”.
Dia mengatakan itu di depan khalayak ramai, sehingga berdiri bulu kudukku, maka kuangkat tanganku ke langit, dan kukatakan: “Ya Allah, Dzat penakluk seluruh hamba-Nya, wahai Dzat yang tiada sesuatupun yang samar bagi-Nya, aku memohon kepada-Mu… bila ‘ANJING’ ini berada di atas kebenaran, maka turunkanlah kepadaku tanda kekuasaan-Mu. Sebaliknya, apabila dia zholim (dlm tindakannya), maka turunkanlah kepadanya SEKARANG JUGA sesuatu yang bisa menjadikan mereka tahu, bahwa dia dalam kebatilan”.

Maka, dua matanya membengkak hingga hampir saja keluar, badannya menghitam hingga seperti aspal dan membengkak, dan keluar dari tenggorokannya sesuatu yang dapat mematikan burung.
Lalu dia dibawa ke rumahnya, tapi tidak sampai 3 hari dia mati, dan tidak ada seorangpun yang bisa memandikannya, karena perubahan yang terjadi pada badan dan kedua matanya. Lalu dia dikuburkan -semoga Allah tidak merahmatinya-… Kisah ini benar adanya, dan terjadi pada tahun 710 H)).
[Kitab Dzail Tarikhil Islam, Karya Imam As-Sakhowi Asy-Syafi'i (w 902 H), hal: 117]
Diterjemahkan oleh ustadz Abu Abdillah Addariny, MA[Kisah Muslim]

Dalam Islam Pacaran Itu Haram

Belakangan ini aku kecewa dengan seorang ikhwan karena dia berpacaran. Dia tahu kalau hukum pacaran itu haram, tapi setelah kutegur lewat facebook dia tetap tidak mau memutuskan pacarnya. Begitulah orang pacaran, memang susah banget dipisahin. Bagaimana sih kalau udah mabuk asmara? Serasa dunia sudah milik berdua dan serasa sudah menjadi orang paling bahagia sedunia. Naudzubillah…

Disini aku akan mengupas tentang pacaran, tidak ada salahnya kan menegur sesama muslim? Bukankah Allah telah berfirman,

“Dan tetaplah memberi peringatan karena peringatan itu bermanfaat.” (Adz-Dzariyat ayat 55).
Ya udah, langsung saja deh.

Pacaran Itu Hukumnya HARAM
Kita sebagai umat muslim sudah tahu kalau pacaran itu hukumnya haram. Bahkan, sebatas bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram pun hukumnya adalah haram. Tidak ada manfaat dari pacaran, malah banyak banget mudhorotnya. Seperti mengganggu pelajaran, membuang-buang waktu, membuang-buang uang, rentan hamil di luar nikah dan sebagainya.

Pacaran itu hukumnya haram walau kamu berdalih pacaran jarak jauh sehingga tidak mungkin kontak fisik dan sebagainya. Walau kamu mencari-cari dalil yang bisa menghalalkan pacaran dan sebagainya. Sebagaimana ayat Al-Qur’an yang berbunyi:
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (Al-Isra ayat 32)

Di ayat ini tertulis bahwa janganlah kita mendekati zina. Jangan mendekati zina itu berarti jangan pacaran, karena zina (baca: seks bebas) pasti dimulai dari pacaran. Pacaran itu kan identik dengan pegang-pegangan tangan, pelukan, bahkan ciuman dan ujung-ujungnya bisa jadi hamil di luar nikah… Iiih, naudzubillah…

Zina itu sendiri terdiri atas beberapa jenis. Zina mata, zina tangan, zina kaki, zina telinga, zina mulut, zina hidung, zina kemaluan, dan zina hati. Jadi walaupun pacaran jarak jauh, yakin bisa menjaga hati?
Atau mungkin sebatas telepon. Suara wanita itukan hukumnya adalah aurat jika didengar oleh yang bukan mahram. Tidak mungkin kan, di telepon kamu tidak mendengar suaranya.

Dalil-Dalil Tentang Haramnya Pacaran
Berikut adalah dalil-dalil tentang haramnya berpacaran dari Al-Qur’an dan As-sunah:
  1. Rasulullah SAW bersabda, “Kebanyakan yang menyebabkan seseorang masuk neraka adalah fajr (kemaluan)
  2. Dari Ma’qil bin Yasar bin Nabi SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang dari kamu dengan jarum besi itu jauh lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.(HR. Thabrani dan Baihaqi)
  3. Dari Asy-Syabi bahwa Nabi saw. ketika membai’at kaum wanita beliau membawa kain selimut bergaris dari Qatar lalu beliau meletakkannya di atas tangan beliau, seraya berkata, “Aku tidak berjabat (baca: menyentuh) tangan dengan wanita.” (HR Abu Daud dalam al-Marassi)
  4. Hadits yang lain berbunyi, “Tidak halal darah seorang muslim, kecuali tiga orang, yaitu laki-laki yang berzina, orang yang membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya.”
  5. Sa’ad bin Ubadah berkata, “Seandainya aku melihat seorang laki-laki berzina dengan istriku, maka akan aku penggal leher laki-laki itu dengan pedang”. Perkataan Sa’ad itu sampai ke telinga Rasulullah SAW, dan beliau berkata, “Apa kalian heran dengan kecemburuan Sa’ad? Sesungguhnya aku lebih cemburu daripada Sa’ad dan Allah lebih cemburu daripada aku. Oleh karena itu, Allah mengharamkan kekejian-kekejian yang tampak dan yang tersembunyi.” 
  6. "Sesungguhnya Allah cemburu (tersinggung) dan seorang mukmin harus cemburu. Ketersinggungan Allah adalah ketika hamba-Nya melakukan apa yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari Muslim)
  7. Dalam hadits lain ketika beliau berkhotbah sholat gerhana matahari, beliau bersabda: “Wahai umat Muhammad, tidak ada yang lebih tersinggung (ghirah) melebihi Allah ketika ketika seorang hamba laki-laki dan perempuan berzina. Hai umat Muhammad, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa.
  8. Dan sebagaimana disebutkan oleh Anas bin Malik, “Akan aku beritahu berita yang tidak akan diberitakan oleh seorangpun sesudahku. Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, Termasuk tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu dan menyebarnya kebodohan, maraknya minuman khamar, dan perzinaan…
  9. Katakanlah (Muhammad) kepada laki-laki yang beriman, ‘hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, ‘hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka…(An-Nur ayat 30-31)
  10. Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang pandangan tiba-tiba (tanpa sengaja), maka beliau memerintahkan aku untuk memalingkan pandanganku.(HR Muslim no. 5609)
  11. Dan juga sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina-zina. Maka zinanya mata dengan memandang (yang haram), zinanya lisan dengan berbicara. Sementara jiwa itu berangan-angan dan berkeinginan, sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.(HR Al-Bukhori no 6243 dan Muslim no. 2657)
  12. Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan dalam dada.” (Ghafir ayat 19)
  13. Ibnu Abbas r.a. berkata, “ayat ini terkait dengan seorang laki-laki yang duduk pada suatu kaum. Lalu lewatlah seorang wanita. Namun bila teman-temannya melihat dirinya, dia menundukkan pandangannya. Sungguh Allah SWT mengetahui keinginan dirinya. Ia ingin andai dapat melihat aurat si wanita.(Al Jami’li Ahkamil Qur’an, 15/198)
  14. Dan masih banyak lagi.

Perbedaan Pacaran dengan Ta’aruf
Kalian mungkin bertanya-tanya, bukankah pacaran adalah ajang mengenal satu sama lain? Bagaimana bisa menikah kalau tidak pacaran dulu? Aku bilang bisa dengan cara Islam. Islam mengajarkan kepada calon suami istri untuk saling mengenal terlebih dahulu yang disebut ta’aruf. Tentu saja ta’aruf lebih sopan dan lebih terarah karena calon suami istri dikenalkan oleh keluarga masing-masing. Secara logika saja, kalau pacaran kan, fulanah selalu mencoba untuk menutup kejelekan dirinya dari si fulan dan memperlihatkan sisi baiknya saja, begitu juga si fulan kepada si fulanah. Kalau ta’aruf, mulai dari kebaikan sampai kejelekan setiap pasangan pasti disebut oleh keluarga, jadi setelah menikah tidak ada penyesalan apapun.

Aku juga berani bilang, kalau pernikahan yang dimulai dari ta’aruf lebih bertahan lama daripada yang dimulai dengan pacaran. Kenapa? Berikut perbedaan pacaran dengan ta’aruf.
  1. Seperti yang aku tulis barusan, dari ta’aruf kita bisa menerima kekurangan diri pasangan kita mengingat diri kita yang juga punya banyak kekurangan. Tidak seperti pacaran dimana setiap pasangan berusaha untuk menutup-nutupi kekurangan dirinya dan tampil sebaik mungkin di depan kekasihnya.
  2. Kalau pacaran berarti manis-manisnya sudah dihabiskan di awal, setelah menikah tinggal sepahnya doang. Kalau ta’aruf, manis-manisnya tentu saja dinikmati setelah menjadi halal. Kitapun merasa disayang oleh Allah SWT karena tidak ada keresahan sedikitpun.
  3. Orang yang berta’aruf biasanya terbimbing dan ter-tarbiyah. Senantiasa menegakkan syariat Allah dan al-Millah. Mereka biasanya adalah orang-orang yang tahu hukum agama kalau bercerai adalah hal yang sangat Allah benci. Berbeda dengan masyarakat awam kebanyakan yang menyelesaikan masalah dengan bercerai. Contohnya gosip perceraian artis yang menjamur di infotainment. Mereka pasti memulai pernikahan dengan pacaran, kan?
Orang yang memulai pernikahan dengan berpacaran biasanya (aku tidak bilang seluruhnya)adalah orang yang tidak mengenal hukum agama. Mereka biasa pergi berduaan, ikhtilat, berpegangan tangan, berpelukan, dan berciuman. Tidak ada jaminan si cewek tidak akan hamil di luar nikah lalu aborsi karena cowoknya tidak mau bertanggung jawab.

Cinta Menurut Agama Islam
Sebagian orang mengira kalau Islam tidak menempatkan cinta pada tempat yang proporsional dan tidak tahu apa cinta itu. Padahal, pada hakikatnya perkiraan orang-orang itu merupakan cermin kebodohan. Tentu saja jauh berbeda cinta menurut masyarakat awam dan cinta menurut agama Islam.

Cinta menurut masyarakat awam tidak lain adalah cinta kepada lawan jenis, cinta nafsu syahwat, cintanya shakespeare, dan cinta seperti yang disenandungkan lagu band-band di Indonesia. Tidak perlu dijelaskan, teman-teman pasti sudah tahu.

Sementara, cinta menurut agama Islam adalah cinta yang paling mulia karena ditempatkan di tempat yang tertinggi. Terjaga dari hal yang tidak-tidak. Itulah cintanya onta betina yang menyusui anaknya, cintanya bayi menyedot air susu ibunya, cintanya burung yang membuat sarang untuk anak-anaknya, cintanya para syuhada yang mengorbankan darahnya di medan perang. Mereka rela jiwa mereka lebur dalam kilatan pedang, punggung mereka jauh dari tempat tidur, bahkan mereka rela menafkahkan seluruh harta mereka demi mencari keridhaan Dzat yang Maha Cinta.
Dr. A’id Al-Qarny menuliskannya dalam buku beliau, Korban-Korban Cinta kalau cinta itu ada dua macam, cinta duniawi dan cinta ilahiyah.
  1. Cinta duniawi bernuansa kehidupan dunia, berbau tanah dan berada pada tataran yang rendah. Ini merupakan cinta murahan dan senda gurau.
  2. Cinta ilahiyah, cinta yang bernuansa langit. Berada pada tataran yang tinggi dan merupakan cermin dari ketaatan dan ibadah.
Imru’ul-Qais jatuh cinta kepada seorang gadis bernama Laila. Abu Jahal mencintai Uzza dan Manat. Qarun Mencintai Emas. Abu Lahab mencintai kedudukan. Mereka semua bangkrut (baca: masuk neraka), karena mereka semua telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Adapun cinta Bilal bin Rabah adalah cinta kepada kebajikan. Ketika dia dibaringkan di atas pasir yang panas di bawah terik sinar matahari, tubuhnya tertindih sebuah batu besar, dia berseru kepada Penguasa bumi dan langit, “Ahad, ahad.” Karena di dalam hatinya ada iman yang teguh seteguh gunung uhud.

Renungan
Ada sebuah cerita dimana terdapat seorang wanita yang sangat mencintai suaminya. Saking cintanya kepada suaminya, wanita tersebut rela menggantikan suaminya bekerja siang malam. Sementara sang suami hanya menunggu di rumah yang rumah itu merupakan milik sang istri. Suatu hari ketika wanita itu baru saja pulang kerja, sang istri melihat sang suami sedang menari telanjang dengan wanita lain di atas kasur kamar mereka. Keduanya mabuk. Tapi apa yang dilakukan sang istri? Dia tetap memaafkan suaminya saking mencintai suaminya itu.
Bagaimana kalau aku bilang sang suami itu adalah kita?

Bagaimana mungkin kita lebih mencintai manusia dibandingkan Allah? Padahal apapun nikmat yang kita rengkuh semua berasal darinya. Pikirkan deh, mulai dari tangan kita, kaki kita, mata kita, hidung kita, dan seluruh tubuh kita adalah bukan milik kita melainkan milik Allah tapi malah kita gunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Tapi Allah Maha Pengampun sebanyak apapun dosa yang berlumuran dalam diri. Allahu Akbar…

Akhir yang Merupakan Awal
Bismillah… ini bukanlah penutup melainkan awal dari lembaran barumu, akhi/ukhti. Aku tahu, memang berat putus dengan si dia, jika tidak berat maka tidak mungkin cowok yang mengaku ikhwan itu terus bertahan dengan pacarnya. Tapi percaya deh, azab Allah jauh lebih berat lagi. Toh, jika akhirnya memang jodoh akan bersatu juga, kan? Atau kalau memang bukan jodoh, yakinlah jika jodoh yang Allah tentukan adalah jodoh yang terbaik untuk kita dan senantiasalah berdo’a agar kita bisa mencintai orang yang kita nikahi.
Hanya kepada Allahlah kami memohon, agar menjadikan kami termasuk orang-orang yang dicintai-Nya dan termasuk syuhada’ di jalan-Nya. 

Wallahu’alam...
ref:http://maryam-qonita.blogspot.com/2010/10/dalam-islam-pacaran-itu-haram.html


SEMOGA BERMANFAAT

Salma Cook: Sosok Rasulullah Membuatku Berpikir


                Selma Cook rutin menghadiri kebaktian gereja setiap pekannya. Meski rutin, ia justru menghindari masuk sekolah agama. Tapi itu, tidak mengurangi kepercayaannya terhadap Allah.
"Aku lebih percaya kepada Tuhan ketimbang Yesus. Yang aku yakini, Yesus tak lebih seperti Nabi," kata dia seperti dilansir onislam.net, Senin (24/2).

                Itu sebabnya, pendalaman agama Selma lebih banyak bagaimana ia berkomunikasi dengan Tuhan. Ia mencintai Yesus, tapi dalam pikirannya, doa secara langsung kepada Tuhan membuatnya merasa nyaman.

                Mulai usia 14 tahun, Selma memutuskan tidak lagi pergi ke gereja. Ia merasa tidak bisa menerima pemikiran gereja. "Apa yang aku dengar tidak membawaku lebih baik," kata dia.

                Suatu hari, Selma bertemu seorang imigran asal Lebanon, dia seorang Muslim. Bersama Nadia, nama imigran tersebut, Selma banyak berdiskusi tentang Islam. Sebelumnya, Selma memang banyak mendengar tentang Islam ketika ia berada di bangku kuliah.

"Aku biasa mengunjunginya. Banyak hal yang aku tanyakan soal Islam kepada Nadia." kata dia.

                Satu pertanyaan dikemukannya, apakah benar Muhammad adalah Nabi penutup.  Selma mengaku, ia belum pernah mendengar tentang itu sebelumnya. "Jawaban Nadia membuatku berpikir. Selama bertahun-tahun aku membaca buku tentang beliau," kata dia.

                Masa itulah, momentum Salma untuk memeluk Islam. Banyak tantangan yang dihadapinya ketika itu. Termasuk, bagaimana mempraktekan Islam dengan benar. Ia menyadari pemahamannya tentang Islam masih dangkal.

                Ia mulai mendalami Islam ketika berada di Sydney, Australia. Banyak hal yang ia pelajari, termasuk bagaimana tata cara berpakaian seorang Muslim. Bagaimana tata cara shalat dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.

"Sampai sekarang aku terus belajar menjadi Muslim yang sempurna, Insya Allah." kata dia

Sumber: Republika

Mahsita D Sari, Islam Menenangkan Jiwa

Tak seperti kebanyakan mualaf yang menghadapi banyak kendala ketika memilih Islam, Mahsita D Sari berjalan mulus.

Wanita kelahiran Jakarta, 16 November 1981, bersyukur mendapatkan kemudahan ketika menyatakan sebagai seorang Muslimah.

”Alhamdulillah tak ada kendala yang berarti,” ungkap wanita yang bekerja di Manufacturing Engineer Section Leader di ResMed LTD, Sydney, Australia melalui surat elektrnoik kepada Republika.

Master Engineering Science dari University of New South Wales ini mengaku justru mamanya yang sangat berperan ia menjadi seorang Muslimah.

”Yang paling banyak mendukung dalam mempelajari Islam adalah mama. Kami belajar Islam di waktu yang sama dan secara tidak sadar kami saling memacu satu sama lain,” paparnya.

Sita, begitu ia akrab disapa, dibesarkan di sekolah Katolik mulai Taman Kanak-kanak hingga SMP. Demikian juga dengan kakak-kakak dan adik-adiknya, waktu itu ibunya seorang Kristiani.

Sewaktu kecil, Sita sering diajak orang tuanya ke panti asuhan Kristen. ”Kami dididik orang tua jika ingin pakaian baru, maka pakaian lama harus diberikan kepada panti asuhan. Istilahnya beli satu baju baru berarti memberi satu baju lama,” kenangnya.

Begitu akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, Sita mengaku tergugah mencari tahu tentang Islam. Karena itu, ia berminat masuk SMA Negeri karena ada pelajaran agama Islam.

”Inilah awal dorongan untuk memeluk Islam. Waktu itu saya ada pilihan untuk melanjutkan ke sekolah Katolik atau di sekolah Negeri. Hati saya gundah gulana setiap kali saya ke SMA Katolik,” ungkapnya.

Akhirnya ia memutuskan masuk SMU Negeri walaupun diakuinya ada rasa takut karena harus belajar agama Islam. ”Agama yang tidak saya kenal walaupun di waktu kecil pernah belajar mengaji sebentar,” paparnya polos.

Rasanya saat itu, kata dia, pelajaran IPA tidak semenakutkan belajar agama Islam. ”Saya sempat stress karena waktu Penataran ada jadwal Shalat Zhuhur yang dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an sementara saya tidak bisa membaca Al-Qur’an.”

Jalan keluarnya, bersama sang mama, ia mencari Alqur’an dan terjemah. ”Alhamdulillah di sebuah toko buku Islam di Jakarta ada yang menjual Alqur’an dengan bahasa Arab dan latin. Hati agak tenang walau saya belum tahu bagaimana menavigasi isi Al-Qur’an,” ujarnya.

Sebagai upaya agar nilai pelajaran Agama tidak merah dan bisa naik kelas, Sita mulai belajar mengaji di rumah. Melalui besan dari kakaknya mama, keluarga Sita mendapatkan guru mengaji. ”Alhamdulillah, bersamaan dengan Sita belajar Islam di sekolah, kami sekeluarga juga mulai terbuka terhadap agama Islam,” jelasnya.

Awal belajar Islam di SMA penuh suka duka. Pertama kali ulangan agama stressnya luar biasa. Tulisan Arab ia hafalkan, belajar semalam suntuk dan besoknya curi-curi belajar di kelas sedangkan teman-teman dari Al Azhar tenang-tenang saja.

Waktu menerima hasil ulangan lebih was-was lagi dan kecewa berat karena guru Agama memberinya nilai huruf V terbalik sementara teman-teman kebanyakan paling tidak mendapat huruf V yang masih ada artinya dibanding V terbalik… Beberapa bulan baru saya tahu kalau V terbalik itu adalah angka delapan dalam bahasa Arab.

Tidak lama kemudian sang mama memberitahu Sita dan keluarga akan pergi umrah. ”Saya pun mencari tahu apa itu umrah? Apa yang harus dilakukan, apa maknanya. Berbagai buku saya baca mulai dari bacaan shalat sampai tata cara umrah.”

Semuanya mengenai ibadah. ”Fokus saya saat itu, saya harus tahu tentang agama Islam supaya saya bisa naik kelas dan tahu umrah itu apa. Hal ini ternyata membuka tidak hanya wawasan, juga hati saya. Kedekatan saya kepada Allah semakin terasa di waktu umrah,” ungkapnya penuh syukur.

Kenikmatan apa yang di rasakan setelah menjadi Muslimah?
Menurut Sita, Islam itu begitu pribadi, menenangkan jiwa dan kedekatan kepada Allah terasa lebih mudah. ”Sesuatu yang tidak saya rasakan sebelumnya,” ungkapnya penuh syukur.

Dalam kesulitan membaca Al Qur’an, kata dia, Allah Subhanahu Wa Ta’ala meringankan dan mendekatkan hati untuk membacanya dan terus berusaha. Saat hati gundah dan pikiran kusut, berdzikr menenangkan hati dan pikiran.

”Saat bingung harus bagaimana dan diri pasrah seringkali jawaban itu hadir saat membuka Al Qur’an. Halaman yang terbuka mengandung ayat jawaban dari masalah yang ada,” ujar Sita yang pernah aktif di The Dawn Quranic Institute dan Daar Aisha College, Sydney secara part time.

Sita membenarkan nasihat sang mama. “when you are close to Allah problems will revolve around you and it won’t affect you” (Ketika kamu dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, persoalan yang berputar di sekitarmu, tidak akan memengaruhimu).

Sita mengaku tahu tentang Islam melalui tetangga yang juga guru ngaji di waktu kecil. Waktu itu pengetahuannya terbatas pada soal Ramadaan dan shalat taraweh di Komplek.

Pengalaman Umrah dan Haji
”Saya mulai mengenal dan belajar apa itu Islam tahun 1997 saat SMA. Umrah adalah titik balik dari hidup saya. Saat umrah ada seorang ibu asing yang mengajarkan tata cara shalat kepada Mama dan Sita di Masjid Nabawi waktu kami sedang menunggu waktu Shalat di Raudhah,” ungkapnya.

”Ibu tersebut mengantar kami ke Raudhah dan menuntun kami ke makam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ibu itu juga menunjukkan lokasi rumah Rasulullah SAW dan Fatimah Al Zahra. Perjalanan umrah itu menjadi perjalanan spiritual yang sangat berkesan,” paparnya haru.

Enam bulan kemudian, kata Sita, ia dan sekeluarga pergi haji. ”Subhanallah, dalam ibadah yang sibuk dan memerlukan banyak energi, banyak kemudahan yang kami rasakan,” ujarnya.

Menjelang kepulangan ke Tanah Air, sang kakak bertanya apakah ia akan tetap memakai hijab. ”Jawaban saya saat itu saya ingin pakai tapi saya masih ingin bermain basket dan segala kegiatan lain,” kata Sita.

”Kakak saya bilang dalam Al Qur’an Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman memakai hijab itu wajib. Pipi saya panas seperti ditampar, saya baru tahu memakai hijab itu wajib. Sepulang haji, saya memutuskan memakai hijab. Waktu itu saya kelas 2 SMA,” ungkapnya.
Pengalaman di Australia
Sita yang aktif dalam berbagai kegiatan Islam di Australia seperti menjadi mentor Islamic Youth Camp di Canberra tahun 2012 lalu serta kegiatan Islam lainnya, mengaku senang tinggal di Australia.
Di Sydney misalnya, kata Sita, bisa memilih untuk hidup di lokasi yang banyak komunitas Muslimnya dan sepanjang mata memandang mayoritas adalah kaum Muslimin atau di lokasi-lokasi lain. Walau demikian, sambung Sita, ber-Islam di Australia bisa dibilang memerlukan kepercayaan diri untuk tampil berbeda.

”Pertama tiba di Australia saya tinggal dengan Paman yang tinggal di daerah Northern Beaches di Sydney yang Muslimnya masih sangat sedikit.”

Menuju tempat kuliah, ia memerlukan perjalanan 1,5 jam dengan transport umum dari rumah. Sepanjang perjalanan selalu bertemu orang Australia, baru bertemu warga Asia kalau sudah di daerah kota (Sydney City).

Sita mengaku tak jarang mendapatkan pertanyaan, ”Mengapa kamu menutup kepala kamu? Apa kamu tidak kepanasan, ini kan sedang musim panas? Kamu Islam liberal atau radikal?” ungkapnya getir.

Semua itu memuncak, setelah peristiwa jatuhnya Twin Tower – September 11, tak lama ia menetap di Sydney. Ujiannya, sambung Sita, tak hanya sekadar ditanya mengenai hijab atau Islam tapi juga ujian kesabaran.

”Kebencian terhadap Islam memuncak saat itu karena kebencian itu didasari oleh ketidaktahuan. Beberapa kali saya dimaki karena saya seorang Muslimah dan mereka tidak terima “saya” atau “kaum muslimin” menghancurkan the twin towers dan menyebabkan banyak nyawa melayang.”

Sekali waktu di jalan, Sita disemprot dan dimaki orang-orang yang sedang naik mobil padahal mereka tak mengenal Sita. Tetapi melalui semua ini, ia dan kawan-kawannya dalam the Islamic Society di University of New South Wales dan di pengajian Keluarga Pelajar Islam Indonesia (KPII) justru semakin dekat dengan satu sama lain dan semakin teguh iman Islamnya.

”Persaudaraan kami menjadi lebih erat dan kami jadi mencari tahu lebih lagi tentang Islam terutama bagaimana cara terbaik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Islam dan berdakwah.”

Sita mengungkapkan, dua sahabat terdekatnya memakai jilbab waktu di Sydney. Di perusahaannya, awalnya hanya Sita yang memakai hijab. ”Alhamdulillah dalam dua tahun terakhir sudah ada dua Muslimah lain yang mengenakan hijab dan diterima bekerja di perusahaan saya. Semua itu ada hikmahnya. Alhamdulillah,” ungkapnya semringah.

Di Sydney selain bekerja, Sita mengajar anak-anak di salah satu TPA, bantu-bantu di kepengurusan Masjid Al Hijrah dan sekarang belajar tajwid dan hafalan Al Qur’an.

Sita bersyukur, banyak masjid yang menyelenggarakan kegiatan agama seperti ceramah Sabtu malam atau pun ceramah Jum’at. Ada juga TPA (Taman Pendidikan Alquran) yang di Australia dikenal sebagai Saturday School. ”Juga ada organisasi kemasyarakatan dan institusi pendidikan yang menyelenggarakan belajar agama baik secara gratis ataupun membayar.”

Ia mengakui, suasana ber-Islam di Australia sangat terasa terutama di bulan Ramadhaan. ”Masjid-masjid menyelenggarakan i’tikaf terutama di 10 hari terakhir. Banyak kawan yang mengambil cuti di 10 hari terakhir agar bisa memaksimalkan ibadah.”

Masjid Al Hijrah, Tempat Sita aktif membantu, biasanya mengundang ustadz dari Indonesia mengisi kegiatan sepanjang bulan Ramadhaan. ”Masjid lainnya, ada juga yang mengundang sheikh dari negara lain.”

Jum’at, Sabtu dan Ahad malam di bulan Ramadhan, kata Sita, biasanya penuh dengan iftar (buka puasa) di masjid atau iftar fund-raising untuk berbagai kegiatan kemanusiaan di seluruh dunia. Pernah juga ada iklan billboard tentang Islam beberapa waktu lalu.

Aktivitas Sita dalam kegiatan TPA di Sydney memberikan pengalaman menarik baginya. Siswanya mulai usia 2.5 tahun, yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang agama dan belajar sambil main-main atau lari-lari karena usianya memang usia bermain, berubah menjadi ingin belajar dan selalu menunggu-nunggu waktu shalat.

”Pernah saat perubahan waktu shalat, anak-anak yang biasanya shalat dulu baru makan siang jadwalnya diganti menjadi makan siang dulu lalu shalat. Saat disajikan makan siang beberapa dari mereka spontan bilang “kita kan belum shalat. Makannya setelah shalat saja.”

Yang menarik, sambung Sita, semangat belajar para siswanya akhrinya menarik orang tuanya untuk lebih serius belajar agama.

”Saat anak-anak belajar, ibu-ibu yang menunggu pun mengaji. Anak dan ibu kadang berlomba untuk bisa membaca Al Qur’an. Sungguh suatu keberkahan bisa menyaksikan dan terlibat dalam perubahan baik ini,” ungkapnya penuh syukur.

Sita menuturkan, dari berbagai observasi menyebutkan, dakwah terbaik adalah melalui amal perbuatan. Kawan-kawannya non-Muslim mengatakan perilaku umat Muslim membentuk persepsi mereka akan Islam.

Selain aktif membina di TPA, Sita dan teman-teman Muslim di Australia juga sering berdakwah melalui kegiatan sosial seperti Feed the Homeless (Memberi makan para tunawisma, Clean-Up Australia Day dan kegiatan lainnya.[Republika]

Hartono Tenang Setelah Kembali ke Islam


Acara di radio membuatnya tertarik mempelajari Islam lebih dalam.
(Islami)  Hartono (25 tahun) lahir dari keluarga Islam. Namun, ia besar tanpa pendidikan agama. Hal ini membuat jiwanya kosong.
Ia mengaku selama itu ia tak pernah mendalami Islam secara sungguh-sungguh. “Saya blank sama sekali tentang Islam,” ujarnya kepada Republika lewat sambungan telepon, pekan lalu.
Merasa pemahaman agamanya sangat dangkal, tak hanya sekali ia mempunyai pikiran untuk keluar dari Islam karena ia merasa tak pernah bisa memetik apa pun selama menjadi Islam.
Saat remaja, kekosongan jiwanya ini semakin memuncak. Ia banyak bergaul dengan orang-orang di luar Islam karena ia merasa lebih cocok.
Melalui internet yang sedang booming di kota tempat tinggalnya, Yogyakarta, ia mendapatkan banyak informasi tanpa filter.
Kemudian ia mengenal lebih jauh tentang agama lain selain Islam. Salah satu yang membuatnya tertarik kala itu adalah agama Buddha dan merasa cocok. Hartono banyak membaca dan mempelajarinya lebih lanjut. Selama empat tahun ia tekun mempelajari agama ini dan banyak mempraktikkan ritual-ritual yang dilakukan oleh para pemeluknya.
Ia melakukan meditasi, percaya pada prinsip jalan kebenaran melalui delapan ruas kemuliaan, percaya dengan orang harus bisa benar dalam pandangan, pikiran, dan perkataan, serta percaya dengan hukum-hukum agama Buddha.
Lalu ia pun mengambil keputusan bulat ingin berpindah agama. Ia ingin masuk menjadi pengikut Buddha. Namun, orang tuanya melarang keras dengan apa yang dilakukannya.
Meski mereka bukan Muslim yang rajin beribadah, mereka tak mau anaknya pindah agama dan mencoreng nama baik keluarga. Bahkan, mereka mengancam akan mengusir Hartono dari rumah jika berani nekat berpindah agama.
Hartono remaja kala itu merasa gundah. Akhirnya, ia memutuskan tetap mantap pada kepercayaan Buddha meski statusnya di KTP Islam.
Ketika di sekolah, ia mengikuti pelajaran agama Islam dengan tak acuh, hanya mencatat, dan tidak bisa memahami apa yang dibicarakan oleh guru agamanya.
Ketika ujian agama berlangsung, ia mati-matian belajar menghafal surat-surat pendek, bacaan shalat, serta praktik shalat jenazah dalam waktu dua minggu. Meski tak mendapatkan nilai bagus dalam pelajaran agama Islam, yang penting ia bisa merasa lega bisa lulus.
Usianya semakin bertambah, kemantapan hatinya pada Buddha pun semakin meningkat. Meski di KTP tertulis beragama Islam, ketika ia ditanya temannya mengapa tidak shalat, Hartono akan dengan mantap menjawab bahwa ia percaya dengan Buddha.
Dan, alasan mengapa ia tetap Islam di KTP karena ia takut kepada orang tuanya yang nanti akan mengusirnya jika ia berpindah agama.
Hartono bahkan pernah menelepon salah satu vihara Buddha yang berada di Malang, Jawa Timur. Ketika ia mengungkapkan keinginannya untuk masuk ke agama Buddha pada salah satu pemuka yang diteleponnya, ia kaget dengan jawaban yang diberikan.
“Biksu tersebut justru bilang, jika saya pindah ke Buddha, berarti saya belum benar-benar memahami Islam. Dengan panjang lebar ia menjelaskan semua agama itu baik dan menyuruh saya untuk memahami Islam lebih dalam lagi,” katanya menjelaskan.
Selama mempelajari agama lain, tak jua ia mendapatkan ketenangan jiwa. Bahkan, ia merasa hidupnya sangat sulit. Berbagai musibah singgah kepadanya, juga rezeki yang sangat sulit ia temukan.
Ketika ia mendapatkan rezeki, ia selalu merasa tidak sebanding, dan kemudian langsung cepat habis entah ke mana tanpa ia sadari.
Hingga suatu hari, secara tak sengaja Hartono mendengarkan radio. Sebuah stasiun radio menyiarkan acara MTA (Majelis Tafsir Alquran). Ia tertarik mendengarkan ceramah Ustaz Sukino dari Surakarta yang memberikan penjelasan pada pertanyaan dari para pendengar.
Hartono kagum dengan sang ustaz yang bisa menjawab mantap semua pertanyaan dengan memuaskan. Ia merasakan hatinya menjadi tenang setelah mendengarkan acara radio tersebut. Peristiwa ini terjadi sekitar enam bulan yang lalu.
Acara tersebut membuatnya penasaran. Ia kemudian mencari lebih lanjut sosok sang ustaz dan konsep acara tersebut. Melalui internet, khususnya Youtube, ia menemukan banyak hal yang membuka hatinya. “Saya merasa mendapatkan hidayah,” ujarnya.
Saat itu, terdengar azan maghrib berkumandang. Setelah itu, ia pun mengambil air wudhu dan ikut shalat berjamaah di masjid dekat rumahnya. “Saya lupa semua bacaan shalat, yang saya ingat hanya al-Fatihah. Saya hanya mengikuti gerakan imam dan jamaah lainnya. Saya menangis di akhir sujud saya,” kata Hartono.
Ia sadar, Islam ternyata tak seperti yang dibayangkannya selama ini. Banyak yang belum ia pahami dan gali dari Alquran. “Selama ini saya hanya menuruti ego dan emosi saya, saya terlalu arogan dan tak pernah mengkaji lebih dalam,” akunya.
Ia merasa dilapangkan jalannya untuk kembali menuju Islam. Hartono pun mencari tahu lebih banyak tentang Islam sebenarnya dan ia puas ternyata semua pertanyaannya bisa ia temukan jawabannya melalui tafsir Alquran dan hadis.
Ia pun rajin mengikuti pengajian dan banyak bertanya tentang apa pun yang membuatnya ragu tentang Islam selama ini. Mempelajari Islam kembali, kali ini lebih meresap ke jiwa, membuat hatinya tenang, lebih adem ayem.
Jalannya kembali ke Islam itu membuat hidupnya semakin baik. Ia merasa ketika memahami Islam sepenuhnya, itu bukan berarti hanya melakukan shalat dan dipamerkan kepada orang lain. Sebab, Islam lebih dari itu. (Republika)

Inilah 12 Kaum yang Dibinasakan Allah


Dalam Alquran, banyak sekali diceritakan kisah-kisah umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah karena mereka mengingkari utusan-Nya dan melakukan berbagai penyimpangan yang telah dilarang. Berikut adalah kaum-kaum yang dibinasakan.

Kaum Nabi Nuh
Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun yang beriman hanyalah sekitar 80 orang. Kaumnya mendustakan dan memperolok-olok Nabi Nuh. Lalu, Allah mendatangkan banjir yang besar, kemudian menenggelamkan mereka yang ingkar, termasuk anak dan istri Nabi Nuh (QS Al-Ankabut : 14).

Kaum Nabi Hud
Nabi Hud diutus untuk kaum 'Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Allah lalu mendatangkan angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa (QS Attaubah: 70, Alqamar: 18, Fushshilat: 13, Annajm: 50, Qaaf: 13).

Kaum Nabi Saleh
Nabi Saleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Nabi Saleh diberi sebuah mukjizat seekor unta betina yang keluar dari celah batu. Namun, mereka membunuh unta betina tersebut sehingga Allah menimpakan azab kepada mereka (QS ALhijr: 80, Huud: 68, Qaaf: 12).

Kaum Nabi Luth
Umat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya mau menikah dengan pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Kendati sudah diberi peringatan, mereka tak mau bertobat. Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan, kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri (QS Alsyu'araa: 160, Annaml: 54, Alhijr: 67, Alfurqan: 38, Qaf: 12).

Kaum Nabi Syuaib
Nabi Syuaib diutuskan kepada kaum Madyan. Kaum Madyan ini dihancurkan oleh Allah karena mereka suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam perdagangan. Bila membeli, mereka minta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi. Allah pun mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat. Kendati mereka berlindung di tempat yang teduh, hal itu tak mampu melepaskan rasa panas. Akhirnya, mereka binasa (QS Attaubah: 70, Alhijr: 78, Thaaha: 40, dan Alhajj: 44).

Selain kepada kaum Madyan, Nabi Syuaib juga diutus kepada penduduk Aikah. Mereka menyembah sebidang padang tanah yang pepohonannya sangat rimbun. Kaum ini menurut sebagian ahli tafsir disebut pula
dengan penyembah hutan lebat (Aikah) (QS AlHijr: 78, Alsyu'araa: 176, Shaad: 13, Qaaf: 14).

Firaun
Kaum Bani Israil sering ditindas oleh Firaun. Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun akan azab Allah. Namun, Firaun malah mengaku sebagai tuhan. Ia akhirnya tewas di Laut Merah dan jasadnya berhasil diselamatkan. Hingga kini masih bisa disaksikan di museum mumi di Mesir (Albaqarah: 50 dan Yunus: 92).

Ashab Al-Sabt
Mereka adalah segolongan fasik yang tinggal di Kota Eliah, Elat (Palestina). Mereka melanggar perintah Allah untuk beribadah pada hari Sabtu. Allah menguji mereka dengan memberikan ikan yang banyak pada hari Sabtu dan tidak ada ikan pada hari lainnya. Mereka meminta rasul Allah untuk mengalihkan ibadah pada hari lain, selain Sabtu. Mereka akhirnya dibinasakan dengan dilaknat Allah menjadi kera yang hina (QS Al-A'raaf: 163).

Ashab Al-Rass
Rass adalah nama sebuah telaga yang kering airnya. Nama Al-Rass ditujukan pada suatu kaum. Konon, nabi yang diutus kepada mereka adalah Nabi Saleh. Namun, ada pula yang menyebutkan Nabi Syuaib. Sementara itu, yang lainnya menyebutkan, utusan itu bernama Handzalah bin Shinwan (adapula yang menyebut bin Shofwan). Mereka menyembah patung. Ada pula yang menyebutkan, pelanggaran yang mereka lakukan karena mencampakkan utusan yang dikirim kepada mereka ke dalam sumur sehingga mereka dibinasakan Allah (Qs Alfurqan: 38 dan Qaf ayat 12).

Ashab Al-Ukhdudd
Ashab Al-Ukhdud adalah sebuah kaum yang menggali parit dan menolak beriman kepada Allah, termasuk rajanya. Sementara itu, sekelompok orang yang beriman diceburkan ke dalam parit yang telah dibakar, termasuk seorang wanita yanga tengah menggendong seorang bayi. Mereka dikutuk oleh Allah SWT (QS Alburuuj: 4-9).

Ashab Al-Qaryah
Menurut sebagian ahli tafsir, Ashab Al-Qaryah (suatu negeri) adalah penduduk Anthakiyah. Mereka mendustakan rasul-rasul yang diutus kepada mereka. Allah membinasakan mereka dengan sebuah suara yang sangat keras (QS Yaasiin: 13).

Kaum Tubba'
Tubaa' adalah nama seorang raja bangsa Himyar yang beriman. Namun, kaumnya sangat ingkar kepada Allah hingga melampaui batas. Maka, Allah menimpakan azab kepada mereka hingga binasa. Peradaban mereka sangat maju. Salah satunya adalah bendungan air (QS Addukhan: 37).

Kaum Saba
Mereka diberi berbagai kenikmatan berupa kebun-kebun yang ditumbuhi pepohonan untuk kemakmuran rakyat Saba. Karena mereka enggan beribadah kepada Allah walau sudah diperingatkan oleh Nabi Sulaiman, akhirnya Allah menghancurkan bendungan Ma'rib dengan banjir besar (Al-Arim) (QS Saba: 15-19)

Ja’far ash-Shadiq Imam Ahlussunnah

arabic market

Tokoh dari kalangan ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dicatut oleh Syiah sebagai tokoh sekte mereka, sebagai imam keenam dalam keyakinan Syiah Itsna Ayriyah, padahal jauh panggang dari api. Akidahnya sangat berbeda jauh dengan akidah sekte Syiah.

Nasab dan Kepribadiannya
Ia adalah Ja’far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abu Thalib. Lahir di Madinah tahun 80 H dan wafat di kota yang sama pada tahun 148 H, dalam usia 68 tahun.
Ash-Shadiq merupakan gelar yang selalu tersemat kepadanya, karena ia terkenal dengan kejujurannya dalam hadis, ucapan, dan tindakan. Ia tidak dikenal berdusta. Tidak hanya pada Syiah, gelar ini juga masyhur di kalangan umat Islam. Syaikhul Islam sering menyebutnya dengan gelar ini.
Laqob lain yang menempel pada Ja’far adalah al-imam dan al-faqih, karena memang ia adalah seorang ulama dan tokoh panutan dari kalangan ahlul bait. Namun yang membedakan keyakinan umat Islam dengan keyakinan Syiah, bahwa menurut umat Islam Ja’far ash-Shadiq bukanlah imam yang ma’shum, bebas dari kesalahan dan dosa.
Imam Ja’far ash-Shadiq dikarunia beberapa orang anak, mereka adalah Isma’il (dijadikan imam oleh Syiah Ismailiyah), Ismail adalah putra tertuanya, wafat pada tahun 138 H, saat ayahnya masih hidup. Kemudia Abdullah, dari Abdullah inilah terambil kun-yah Ja’far, Abu Abdullah. Kemudian Musa, ia dijadikan oleh Syiah Itsna Asyriyah sebagai imam yang ketujuh setelah Ja’far. Kemudian Ishaq, Muhammad, Ali, dan Fatimah.
Ja’far dikenal sebagai seorang yang dermawan dan sangat murah hati. Sifat ini seakan warisan dan tradisi dari keluarga yang mulia ini. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling murah hati di antara keluarga ini.
Dalam hal kedermawanan, ia juga mewarisi sifat kakeknya Ali Zainal Abidin yang terkenal dengan bersedekah secara sembunyi-sembunyi. Kisah yang masyhur tentang Ali Zainal Abidin bahwa pada malam hari yang gelap, ia memanggul sekarung gandum, daging, dan membawa uang dirham di atas pundaknya, lalu ia bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan dari kalangan orang-orang fakir dan miskin di Kota Madinah. Keadaan demikian tidak diketahui oleh orang-orang yang mendapat pemberiannya sampai ia wafat dan penduduk Madinah merasa kehilangan dengan sosok misterius yang senantiasa membagi-bagikan uang dan makanan di malam hari.

Perjalanan Keilmuannya
Ja’far ash-Shadiq menempuh perjalanan ilmiahnya bersama dengan ulama-ulama besar. Ia sempat menjumpai sahabat-sahabat Nabi yang berumur panjang, seperti: Sahl bin Sa’id as-Sa’idi dan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhuma. Dia juga berguru kepada tokoh-tokoh utama tabi’in seperti Atha bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab az-Zuhri, Urwah bin Zubair, Muhammad bin al-Munkadir, Abdullah bin Rafi’, dan Ikrimah maula Ibnu Abbas. Dia juga meriwayatkan dari kakeknya al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr.
Mayoritas ulama yang ia ambil hadisnya berasal dari Kota Madinah. Mereka adalah ulama-ulama tersohor, tsiqah, memiliki ketinggian dalam amanah dan kejujuran.
Adapun murid-muridnya yang paling terkenal adalah Yahya bin Sa’id al-Anshari, Aban bin Taghlib, Ayyub as-Sikhtiyani, Ibnu Juraij, dan Abu Amr bin al-‘Ala. Demikian juga imam darul hijrah, Malik bin Anas al-Ashbahi, Sufyan ats-Tsauri, Syu’bah bin al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah, Muhammad bin Tsabit al-Bunani, Abu Hanifah, dan masih banyak lagi.
Para imam hadis –kecuali Imam Bukhari- meriwayatkan hadis melalui jalurnya di kitab-kitab mereka. Sementara Imam Bukhari meriwayatkan hadis melalui jalurnya pada kita selain ash-Shahih.
Berkat keilmuan dan kefaqihannya, sanjungan para ulama pun mengarah kepadanya:
Abu Hanifah mengatakan, “Tidak ada orang yang lebih faqih daripada Ja’far bin Muhammad.”
Abu Hatim ar-Razi dalam al-Jarh wa at-Ta’dil, 2: 487 berkata, “(Dia) tsiqah, tidak perlu dipertanyakan kualitas orang sekaliber dia.”
Ibnu Hibban berkomentar, “Dia termasuk tokoh dari kalangan ahlul bait, ahli ibadah dari kalangan atba’ at-tabi’in, dan ulama Madinah.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memujinya dengan ungkapan, “Sesungguhnya Ja’far bin Muhammad termasuk imam, berdasarkan kesepakatan Ahlussunnah” (Minhaju as-Sunnah, 2:245).
Demikian sebagian kutipan dari para ulama yang meuji kedudukan Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq.

Ja’far ash-Shadiq Tidak Mencela Abu Bakar dan Umar
Orang-orang Syiah bersikap berlebihan terhadap Ja’far ash-Shadiq. Mereka mendaulatnya sebagai imam keenam. Pengakuan mereka ini hanyalah klaim sepihak saja. Buktinya, apa yang Ja’far ash-Shadiq yakini dan ia katakan sangat jauh berbeda dengan keyakinan-keyakinan Syiah.
Misalnya sikap Ja’far ash-Shadiq terhadap Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar al-Faruq. Besarnya kecintaan Ja’far kepada kedua tokoh Islam ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Abdul Jabbar bin al-Abbas al-Hamdani berkatam “Sesungguhnya Ja’far bin Muhammad menghampiriku saat hendak meninggalkan Madinah. Ia berkata, ‘Sesungguhnya kalian, insya Allah termasuk orang-orang shaleh di Madinah. Maka tolong sampaikan (kepada orang-orang), barangsiapa yang menganggapku sebagai imam ma’shum yang wajib ditaati, maka aku berlepas diri darinya. Barangsiapa yang menduga aku berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar, maka aku pun berlepas diri darinya’,”
Ad-Daruquthni meriwayatkan dari Hanan bin Sudair, ia berkata, “Aku mendengar Ja’far bin Muhammad saat ditanya tentang Abu Bakar dan Umar, ia berkata, ‘Engkau bertanya tentang orang yang telah menikmati buah-buahan surga?’”
Pernyataan Ja’far ini sangat jelas bertolak belakang dengan keyakinan orang-orang Syiah yang mencela dan memaki Abu Bakar dan Umar serta mayoritas sahabat lainnya dan menjadikan hal itu sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ja’far ash-Shadiq tidak mungkin mencela mereka. Ibunya, Ummu Farwa adalah putri al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq. Sementara neneknya dari jalur ibunya adalah Asma’ binti Abdurrahman bin Abu Bakar ash-Shiddiq. Apabila anak-anak Abu Bakar ini adalah paman-pamannya dan Abu Bakar sendiri adalah kakeknya dari dua sisi, maka sulit dibayangkan seorang Ja’far ash-Shadiq yang berilmu dan shaleh ini melontarkan cacian dan makian kepada kakeknya, Abu Bajar ash-Shiddiq.

Klaim Bohong Syiah
Pada masa Ja’far, bid’ah al-Ja’d bin Dirham dan pengaruh Jahm bin Shafwan telah menyebar. Sebagian kaum muslimin terpengaruh dengan akidah Alquran sebagai makhluk, akan tetapi Ja’far bin Muhammad mengatakan, “Bukan Khaliq (pencipta), bukan juga makhluk, tetapi kalamullah.” Akidah dan pemahaman seperti ini bertentangan dengan golongan Syiah yang mengamini Mu’tazilah, dengan pemahaman akidahnya, Alquran adalah makhluk.
Artinya prinsip akidah yang dipegangi oleh Ja’far ash-Shadiq merupakan prinsip-prinsip yang diyakini para imam Ahlussunnah wal Jamaah, dalam penetapan sifat-sifat Allah. Yaitu menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta menafikan sifat-sifat yang dinafikan Allah dan Rasul-Nya.
Ibnu Taimiyah berkata, “Syiah Imamiyah (Itsna Asyriyah), mereka berselisih dengan ahlul bait dalam kebanyakan pemahaman akidah mereka. Dari kalangan imam ahlul bait seperti Ali bin Husein, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, dll. tidak ada yang mengingkari keyakinan melihat Allah di hari kiamat, tidak ada yang meyakini Alquran adalah makhluk, atau mengingkari takdir, atau menyatakan Ali merupakan khalifah resmi (sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), tidak ada yang mengakui imam yang dua belas adalah ma’shum atau mencela Abu Bakar dan Umar.”
Orang-orang Syiah juga berdusta dengan meyakini bahwa Ja’far ash-Shadiq adalah imam yang kekal abadi, tidak akan pernah mengalami kematian. Hingga saat ini, menurut mereka Ja’far ash-Shadiq telah menulis banyak karya untuk mendakwahkan ajaran Syiah. Di antara buku yang diklaim Syiah sebagai karya Imam Ja’far adalah Rasailu Ikhwani ash-Shafa, al-Jafr (buku yang memberitakan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi), ‘Ilmu al-Bithaqah, Ikhtilaju al-A’dha, Qiraatu al-Quran fi al-Manam, dll.
Sebuah prinsip yang harus kita pegang adalah kita tidak menerima suatu perkataan pun dari Ja’far ash-Shadiq dan imam-imam yang lain, kecuali dengan sanad yang bersambung, diriwayatkan dari orang-orang yang terpercaya, dan didukung dalil, maka baru perkataan tersebut bisa kita terima. Dan yang perlu diketahui, pada masa hidup Ja’far ash-Shadiq adalah masa-masa yang kering dari karya tulis (80-148 H).
Ibnu Taimiyah mengatakan, “Syariat mereka (Syiah) tumpuannya berasal dari riwayat sebagian ahlul bait seperti Abu Ja’far al-Baqir, Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, dan lainnya. Tidak diragukan lagi, mereka (yang dijadikan Syiah sebagai tumpuan riwayat) adalah orang-orang pilihan milik kaum muslimin dan imam-imam umat ini. Ucapan-ucapan mereka mempunyai kemuliaan dan nilai yang pantas didapatkan oleh orang-orang seperti mereka. Namun sayang, banyak nukilan dusta banyak disematkan kepada mereka. Kaum Syiah tidak memiliki kapasitas dalam hal periwayatan. Mereka layaknya ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani), semua riwayat-riwayat yang mereka jumpai dalam buku-buku mereka, langsung mereka terima (tanpa selesksi). Berbeda dengan Ahlussunnah, mereka mempunyai kapasitas yang mumpuni dalam ilmu periwayatan, sebagai piranti untuk membedakan mana kabar yang benar dan kabar yang dusta.” (Minhaj as-Sunnah, 5: 162).
Diadaptasi dari muqoddimah tahqiq kitab al-Munazharah (Munazharah Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq ma’a ar-Rafidhi fi at-Tafdhili Baina Abi Bakr wa ‘Ali) karya Imam al-Hujjah Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq, tahqiq Ali bin Abdul Aziz al-Ali Alu Syibl.[kisahmuslim]
Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 05/X/1427H/2006M

Kisah Keajaiban Sedekah Sembuhkan Penyakit Menahun di Zaman Abdullah bin Mubarak


ilustrasi zaman Abdullah bin Mubarak  

Abdullah bin Mubarak adalah seorang tabi’in yang lahir pada tahun 118 Hijriyah. Ia terkenal dengan ilmu, kezuhudan dan kedermawanannya. Dialah ulama tempat orang-orang bertanya sekaligus mencari solusi di zamannya.

Seperti hari itu. Seseorang yang telah menderita penyakit selama bertahun-tahun bertanya kepada Abdullah bin Mubarak.

“Wahai Abu Abdirrahman, borok di lututku telah berusia tujuh tahun. Aku telah bertanya kepada para tabib dan mengobatinya dengan berbagai obat, tetapi semua tidak berhasil,” tanya orang tersebut penuh harap.

“Pergilah mencari lokasi tempat manusia membutuhkan air,” jawab Abdullah bin Mubarak memberikan solusi, “lalu buatlah sumur di sana. Aku berharap muncul mata air di sana dan borokmu tidak lagi mengeluarkan darah dan nanah.”

Orang itu pun mengikuti saran Ibnu Mubarak. Ia mencari daerah yang penduduknya kekurangan air. Ia buatkan sumur untuk mereka. Lalu, Allah pun menyembuhkan penyakitnya.

Mengomentari kisah nyata keajaiban sedekah ini, Aidh Al Qarni menjelaskan:


Jangan heran, wahai saudaraku yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

دَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
“Obatilah orang-orang yang sakit diantara kalian dengan sedekah” (HR. Baihaqi dan Thabrani; hasan lighairihi menurut Al Albani dalam Shahih Targhib wat Tarhib)

Rasulullah juga bersabda,

إِنَّ الصَّدَقَةَ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ
“Sesungguhnya, sedekah dapat memadamkan kemurkaan Tuhan” (HR. Tirmidzi dan ia menghasankannya)

*Disarikan dari As’adu Imroatin fil ‘Alam [bersamadakwah]
ref:http://www.bersamadakwah.com/2014/02/kisah-keajaiban-sedekah-sembuhkan.html

ATHEIS YANG KAGUM DENGAN KESEDERHANAAN ISLAM

Radko, merupakan pribadi yang tak pernah percaya adanya keberadaan Tuhan. Dalam pandangannya, orang beragama hanyalah pribadi yang mengeluh. "Waktu itu, saya benar-benar orang yang benci agama," ungkap dia seperti dilansir, onislam.net.

Kebenciannya terhadap agama memang tidak membuatnya terkecil. Persahabatan coba dibangunnya dengan prinsip tanpa bahasan soal agama. Namun, ini yang mungkin sulit dihindari Radko. Pada akhirnya, ia selalu bersinggungan dengan agama.

Suatu hari, ia tengah berkunjung ke rumah sahabatnya. Awalnya, kunjungan berlangsung sesuai dengan apa yang dibayangkan Radko, tanpa bahasan soal agama. Cukup lama Radko menikmati kegembiraan melalui perbincangan bersama sahabatnya itu.

Namun, Radko pun diajak sahabatnya itu menuju gereja. Bagi Radko, berkunjung ke geraja tanpa membahas agama tak menyalahi prinsipnya. Radko pun memasuki gereja. Ia duduk dibelakang. Kehadiran Radko, yang asing, menarik perhatiaan warga gereja. Radko memandangi banyak wajah yang ingin bertanya. "Siapa orang ini," kata Radko dalam hati.

Radko tak peduli dengan tatapan mata itu. Ia dengarkan khutbah gereja. Tanpa disangka, Radko meneteskan air mata. Tubuhnya gemetar dan lemas.

Usai mengikuti acara di gereja, Radko memang tidak menegur shabatnya itu. Tapi satu sapaan sahabatnya membuat Radko tersadar, ia pun setuju akan mendatangi gereja lagi. Benar saja, Radko mulai mendatangi lagi gereja. Hal yang sudah lama ia tinggalkan.

Selama ia mengunjungi gereja, kepercayaan terhadap Tuhan mulai bangkit perlahan. Sosok Yesus Kristus menjadi pemicunya. Namun, Radko mempertanyakan banyaknya kontradiksi dalam Injil, utamanya tentang status keilahian Yesus.

Pertanyaan itu segera menghantarkan pada usaha Radko mencari kebenaran. Ia mulai melirik Islam. Saat itu, Radko berpikir Islam menyebut Tuhan dengan kata Allah. Mereka membaca Alquran dan mereka menghormati sosok yang bernama Muhammad.

Secara perlahan, Radko meninggalkan gereja. Meski ia masih mengaku sebagai penganut Kristen. Yang ada di dalam pikirannya saat itu adalah, bagaimana mencari informasi lebih banyak tentang Islam.

Tidak mudah bagi Radko untuk mencapai keinginannya itu. Tapi Allah punya rencana lain, ia bertemu dengan seorang pemuda dari Irak, namanya Ibrahim. Mereka berdua terlibat dialog agama begitu panas. Ibrahim meyakinkan Radko bahwa ia seorang Muslim. Perkataan itu yang membuatnya semakin bergairah mempelajari Islam.

Selanjutnya, Radko banyak berkomunikasi dengan Mohammad Silhavu, salah satu tokoh Muslim di Ceko. Melalui Silhavy, Radko memperoleh terjemahan Alquran. Ia juga banyak menerima literatur tentang Islam. Satu kesimpulan yang diperoleh Radko, Islam bukanlah agama militan tetapi agama damai.

Saat itu, Radko mulai memberanikan diri mendatangi masjid di Brno. Awalnya, ia merasa takut. Beruntung, ia banyak terbantu dengan keramahan Muslim. Melalui masjid, Radko mulai mempelajari ajaran Islam. "Islam begitu logis dan mudah dipahami. Sederhana sekali, sehingga saya bisa dengan mudah mempelajarinya," kata dia.

Pada titik ini, Radko mulai dihadapkan satu keputusan besar. Tidak mudah baginya, banyak pertimbangan yang ia pikirkan. Namun, sebagian besar hati dan pikirannya sudah memilih Islam. "Saya belumlah menjadi Muslim yang sempurna. Saya percaya bahwa Allah membantu saya, Insya Allah," kata dia.[mualaf]

Mengapa Hewan Turun Gunung Sebelum Kelud Meletus? Ini Penjelasan Sains dan Agama

Hewan turun gunung - ilustrasi 


Sebuah fenomena alam terjadi beberapa saat sebelum Gunung Kelud meletus. Harimau, kera, rusa, hingga ular tampak berbondong-bondong turun dari gunung yang kemudian mengalami erupsi pada Kamis (13/2) malam sekitar pukul 22.50 WIB itu.

"Kemarin sore, ada tanda-tanda alam di Jawa Timur. Alam memberikan sinyal, di samping data ilmiah yang kita monitor. Ada harimau, ular, dan kera yang turun dari Gunung Kelud. Alam memberi tanda bahwa sebentar lagi Kelud meletus," ucap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik, seusai rapat terbatas dengan Presiden di Kantor Kepresidenan, Jumat (14/2) seperti dikutip Tribunnews.

Mengapa hewan-hewan itu seakan memberikan pertanda bahwa Gunung Kelud akan meletus sebentar lagi? Berikut penjelasan dari segi sains dan agama.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, mengatakan fenomena ini sebenarnya bisa terjelaskan secara ilmiah. Menjelang letusan Kelud pada tahun 1990, Surono memasang alat pemantau akustik di gunung itu untuk kepentingan disertasinya di Universitas Grenoble, Perancis.

Dia memasang alat yang bisa memantau gelombang suara berfrekuensi rendah (0,1-50 Hz), menengah (200 Hz- 5.000 Hz), dan tinggi (di atas 15 kHz).

”Saya memasang tiga alat pendeteksi frekuensi itu untuk mengetahui mekanisme yang terjadi di tubuh Kelud saat kegiatannya meningkat,” ujarnya seperti dikutip sains.kompas.com.

Menjelang Kelud meletus pada 1990, gunung ini sangat tenang dan sepi dari gempa sehingga diperlukan indikator lainnya, yaitu suara. ”Sebelum gunung meletus, ada tekanan fluida (bisa berupa gas, uap air, atau magma) yang mendorong sumbat gunung,” katanya. Namun, tekanan ini masih bisa ditahan sumbat gunung itu. Batuan juga memiliki daya elastisitas tertentu.

Ketika ditekan, dia akan melentur sebelum pada suatu titik akan jebol. Dorongan tekanan tinggi yang membentur sumbat gunung itulah yang memunculkan frekuensi tinggi yang suara bisingnya hanya bisa didengar hewan tertentu.

”Pada saat itulah hewan-hewan yang tak tahan suara bising ini berlarian turun dari gunung,” kata Surono.

Suara dengan frekuensi tinggi ini tidak bisa didengar manusia yang hanya mampu mendengar suara dengan frekuensi 20 Hz- 20 kHz. Berbeda dengan binatang, misalnya kelelawar atau lebah, yang bisa menangkap suara dengan frekuensi hingga di atas 100 kHz.

Dari segi agama, inilah kasih sayang Allah kepada makhluknya. Gunung dan hewan-hewan yang membentuk ekosistem di atasnya adalah sama-sama makhluk Allah. Mereka memiliki kesamaan yakni tunduk kepada Allah, namun berbeda dalam cara ketundukannya. Mereka juga sama-sama “menolak” amanah dari Allah dengan alasan tidak sanggup menjalankannya.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia...” (QS. Al-Ahzab : 72)

Gunung yang tidak sanggup menerima amanah tersebut, mendapatkan amanah lain sebagai penyeimbang bumi.

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.” (QS. Luqman : 10)

Fungsi gunung sebagai pasak ini telah dijelaskan secara ilmiah oleh Harun Yahya dalam beberapa buku dan video-nya.

Sebagaimana manusia dan makhluk hidup lain yang bisa sakit dan mati, gunung juga memiliki ajal dan takdir. Kapan ia meletus dan kapan ia berubah dari gunung berapi aktif menjadi separuh aktif, juga dari separuh aktif menjadi mati.

Saat gunung akan mengalami erupsi, Allah memberikan rahmatNya kepada makhlukNya yang lain diantaranya dengan mengirim frekuensi tinggi yang membuat hewan-hewan merasa terancam bahaya dan turun menjauh dari pusat letusan.

“Sesungguhnya Allah memiliki 100 rahmat. Salah satu di antaranya diturunkanNya kepada kaum jin, manusia, hewan, dan tetumbuhan. Dengan rahmat itulah mereka saling berbelas kasih dan menyayangi. Dengannya pula binatang liar mengasihi anaknya. Dan Allah mengakhirkan 99 rahmat untuk Dia curahkan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.” (Muttafaq ‘alaih)

Subhanallah...[bersamadakwah]

aku takjub saat mendengara lantunan Quran


Setelah masuk Islam, ia memiliki nama Aminah Amatullah. Aminah, berasal dari keluarga Protestan. Sebenarnya gadis yang tinggal di Hannover, Jerman, ini tidak merasa terlalu religius. Tetapi ia seperti menyadari ada yang salah dengan keyakinan yang dianut keluarga dan masyarakat umumnya. Dalam berdoa misalnya, Aminah tak mau berdoa kepada Yesus. Dan ia juga meyakini, berdoa bisa dilakukan di mana saja. Karenanya ia tidak merasa perlu datang ke gereja.

"Aku ketika berdoa ditujukan kepada Allah bukan Yesus. Aku juga tidak pernah ke gereja, karena itu tidak perlu," kenang Aminah seperti dikutip Selasa lalu.

Memasuki usia 22 tahun, Aminah menikah dengan seorang Katholik. Dari pernikahannya, Aminah memiliki tiga anak. Ia mengajarkan kepada anak-anaknya tentang apa yang diyakininya, bahwa Allah dekat dengan mereka, Allah melindungi keluarganya. 

Aminah begitu bahagia dengan keluarga kecilnya. Sayang, kebahagiaan itu perlahan sirna. Sekitar tahun 1998, Aminah memutuskan pindah ke Wernigerode, kota kecil di Timur Jerman. Di sana, ia berharap bisa menyelamatkan pernikahannya. Ia juga mulai kembali bekerja. Di tempatnya bekerja, Aminah bertemu seorang Muslim. Saat itu, Aminah tidak tahu banyak soal Islam dan Muslim. Hari demi hari berjalan, dan setelah berlalu setahun, Aminah mulai menerima perilaku Muslim dan itu membuatnya merasa lebih kuat. Meskipun, saat itu pernikahannya terancam bubar.

Aminah mulai tersentuh hidayah saat dirinya mengunjungi laman pribadi seorang pria Muslim yang dikenalnya melalui internet. Di sana ada link Al Qur’an dan asmaul husna.

Mulai membaca Al Qur’an, Aminah langsung takjub. Kekagumannya terhadap Al Qur’an menjadikan Aminah terus berusaha mendalami ajaran Islam. Saat berpindah ke Macedonia, beberapa pekan berikutnya, niat mendalami Islam itu terlaksana.

Hingga suatu hari... dorongan untuk menjadi Muslim tak terbendung.

"Satu malam, saya bermimpi menemukan kucing kesayangan anak-anak mati. Mimpi itu seolah mengingatkanku untuk segera mengambil keputusan, sebelum Allah Subhanahu wa Ta’ala kembali memanggilku," kenangnya.

Aminah sudah mantap untuk masuk Islam. Tetapi, ia merasa bingung karena sulit menemukan komunitas Muslim di Macedonia. Ia pun kembali ke Jerman. Di sana ia menyambangi Braunschweig, kota kecil di Barat Jerman. Setibanya, ia menyambangi masjid, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Momen itu mendapat simpati umat Islam di daerah itu.

Selesai bersyahadat, Aminah berencana memberitahu keluarga dan kerabatnya. Ketika diberitahu, keluarganya sangat terkejut. Tidak ada lagi yang ingin berbicara padanya. Aminah merasa sedih dengan hal tersebut.

"Tapi aku tidak mungkin meninggalkan iman hanya karena keluarga dan teman-teman saya," kata dia.

Tak lama, Aminah mulai mengenakan jilbab. Gaya berbusana yang serba terbuka perlahan diganti dengan gaya santun dan sopan. Ketika memakai jilbab, Aminah merasakan kenikmatan yang tak bisa diungkap. 

"Memang masyarakat Jerman belum sepenuhnya menerima jilbab. Tapi aku tidak menyesali putusan ini," kenangnya seperti dikutip Republika dari on Islam.

"Tidak menjadi Muslim yang sempurna, tapi aku bersyukur pada Allah atas anugerahnya ini. Semoga Allah memberikan balasan kepada mereka yang membantu saya kembali pada Islam," ucapnya
[mualaf]