ATHEIS YANG KAGUM DENGAN KESEDERHANAAN ISLAM

Radko, merupakan pribadi yang tak pernah percaya adanya keberadaan Tuhan. Dalam pandangannya, orang beragama hanyalah pribadi yang mengeluh. "Waktu itu, saya benar-benar orang yang benci agama," ungkap dia seperti dilansir, onislam.net.

Kebenciannya terhadap agama memang tidak membuatnya terkecil. Persahabatan coba dibangunnya dengan prinsip tanpa bahasan soal agama. Namun, ini yang mungkin sulit dihindari Radko. Pada akhirnya, ia selalu bersinggungan dengan agama.

Suatu hari, ia tengah berkunjung ke rumah sahabatnya. Awalnya, kunjungan berlangsung sesuai dengan apa yang dibayangkan Radko, tanpa bahasan soal agama. Cukup lama Radko menikmati kegembiraan melalui perbincangan bersama sahabatnya itu.

Namun, Radko pun diajak sahabatnya itu menuju gereja. Bagi Radko, berkunjung ke geraja tanpa membahas agama tak menyalahi prinsipnya. Radko pun memasuki gereja. Ia duduk dibelakang. Kehadiran Radko, yang asing, menarik perhatiaan warga gereja. Radko memandangi banyak wajah yang ingin bertanya. "Siapa orang ini," kata Radko dalam hati.

Radko tak peduli dengan tatapan mata itu. Ia dengarkan khutbah gereja. Tanpa disangka, Radko meneteskan air mata. Tubuhnya gemetar dan lemas.

Usai mengikuti acara di gereja, Radko memang tidak menegur shabatnya itu. Tapi satu sapaan sahabatnya membuat Radko tersadar, ia pun setuju akan mendatangi gereja lagi. Benar saja, Radko mulai mendatangi lagi gereja. Hal yang sudah lama ia tinggalkan.

Selama ia mengunjungi gereja, kepercayaan terhadap Tuhan mulai bangkit perlahan. Sosok Yesus Kristus menjadi pemicunya. Namun, Radko mempertanyakan banyaknya kontradiksi dalam Injil, utamanya tentang status keilahian Yesus.

Pertanyaan itu segera menghantarkan pada usaha Radko mencari kebenaran. Ia mulai melirik Islam. Saat itu, Radko berpikir Islam menyebut Tuhan dengan kata Allah. Mereka membaca Alquran dan mereka menghormati sosok yang bernama Muhammad.

Secara perlahan, Radko meninggalkan gereja. Meski ia masih mengaku sebagai penganut Kristen. Yang ada di dalam pikirannya saat itu adalah, bagaimana mencari informasi lebih banyak tentang Islam.

Tidak mudah bagi Radko untuk mencapai keinginannya itu. Tapi Allah punya rencana lain, ia bertemu dengan seorang pemuda dari Irak, namanya Ibrahim. Mereka berdua terlibat dialog agama begitu panas. Ibrahim meyakinkan Radko bahwa ia seorang Muslim. Perkataan itu yang membuatnya semakin bergairah mempelajari Islam.

Selanjutnya, Radko banyak berkomunikasi dengan Mohammad Silhavu, salah satu tokoh Muslim di Ceko. Melalui Silhavy, Radko memperoleh terjemahan Alquran. Ia juga banyak menerima literatur tentang Islam. Satu kesimpulan yang diperoleh Radko, Islam bukanlah agama militan tetapi agama damai.

Saat itu, Radko mulai memberanikan diri mendatangi masjid di Brno. Awalnya, ia merasa takut. Beruntung, ia banyak terbantu dengan keramahan Muslim. Melalui masjid, Radko mulai mempelajari ajaran Islam. "Islam begitu logis dan mudah dipahami. Sederhana sekali, sehingga saya bisa dengan mudah mempelajarinya," kata dia.

Pada titik ini, Radko mulai dihadapkan satu keputusan besar. Tidak mudah baginya, banyak pertimbangan yang ia pikirkan. Namun, sebagian besar hati dan pikirannya sudah memilih Islam. "Saya belumlah menjadi Muslim yang sempurna. Saya percaya bahwa Allah membantu saya, Insya Allah," kata dia.[mualaf]

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "ATHEIS YANG KAGUM DENGAN KESEDERHANAAN ISLAM"

Post a Comment